EKSPOSKALTIM.com, Bontang - Memiliki latar belakang sebagai pengusaha, anggota DPRD Bontang Muhammad Irfan memilih untuk bergabung di Komisi I yang membidangi urusan pendidikan dan ketenagakerjaan.
Tapi, itu bukan satu-satunya alasan Irfan memilih komisi tersebut. Dinamika politik di Bontang terus bergerak. Nama-nama tokoh yang akan memperebutkan kursi Bontang 1 dan 2 terus bermunculan. Dari sekian banyak tokoh, nama Irfan mencuat. Dia adalah satu-satunya tokoh muda yang terus disebut sebagai kandidat.
Salah satu modal Sekretaris Komisi I DPRD Bontang ini di bursa Pilkada Bontang adalah jumlah perolehan suara di Pileg 2019 lalu sebanyak 1.523 suara. Tetapi, itu bukan modal utama. Kepada media ini, Irfan menjamin bahwa dirinya siap secara finansial untuk bersaing di Pilkada 2020.
"Saya sangat siap secara finansial. Tapi, saya katakan bahwa itu bukan satu-satunya yang saya miliki. Saya punya keyakinan yang kuat dan jiwa petarung," kata Irfan.
Nah, pemilihan dirinya untuk duduk di Komisi 1 adalah untuk menjaring permasalahan ketenagakerjaan. Sebagai pengusaha, dia sudah memiliki beberapa langkah penyelesaian permasalahan ketenagakerjaan. Salah satu yang nantinya akan dia lakukan adalah penguatan Perda 10 Tahun 2018 tentang Rekrutmen Tenaga Kerja.
Peran Dinas Ketenagakerjaan akan diperkuat. Instansi itu diharapkan tidak hanya mengeluarkan kartu kuning. Tapi membantu penempatan tenaga kerja. "Masalahnya di sini, kita banyak perusahaan. Tapi pemerintah juga harus terlibat dalam penempatan tenaga kerja dan pelatihan sumber daya manusia," kata Irfan.
Belum lama ini, kata Irfan, dirinya menyalurkan ratusan tenaga kerja ke Batam. Ada pekerjaan pembangunan kontruksi oleh perusahaan Jepang. Sebagai rekanan, Irfan diberi kewenangan untuk menyediakan tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
"Alhamdulillah, kebutuhan perusahaan 1.400 lebih tenaga kerja. Ada welder dan tenaga kerja yang lain," katanya.
Untuk tahap pertama, Irfan sudah memberangkatkan 300 orang. Gelombang kedua akan menyusul. Kontraknya dengan perusahaan Jepang itu untuk dua tahun masa kerja. Jadi, selama masa itu para pekerja akan berada di Batam.
"Soal gaji dan lain sebagainya itu pembicaraan antara tenaga kerja dan perusahaan. Saya hanya menyediakan sumber daya sesuai dengan kebutuhan perusahaan," katanya.
Dia berujar bahwa itu adalah bentuk pengabdiannya terhadap masyarakat. Itu juga sekaligus ingin membuktikan bahwa sumber daya manusia Bontang sangat siap untuk bersaing. (adv)

