PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Siapa yang Menanti Pembangunan ?

Home Berita Siapa Yang Menanti Pemban ...

Siapa yang Menanti Pembangunan ?
Suasana perkampungan Ujoh Bilang di Kabupaten Mahulu. (Ekspos Kaltim/Fariz Fadhillah)

EKSPOSKALTIM, Mahulu

Udara dingin perlahan merasuk ke perkampungan Ujoh Bilang, Kecamatan Long Bagun, Kabupaten Mahakam Ulu.  Raung mesin ketinting dari buritan ces-perahu khas Dayak- terdengar jelas dari tepi sungai.

Kabut dari kejauhan belum juga tersapu oleh sinar matahari yang tak juga muncul. Udara pagi di Ujoh Bilang sangat dingin. Kawasan ini masih dikelilingi hutan lebat nan asri. Namun jika siang hari, kondisinya berbeda karena panas yang begitu menyengat.

Belum lagi  fenomena equinox, yakni peningkatan suhu udara saat posisi semu matahari persis di khatulistiwa terjadi di sini. Sunggung tak terbayangkan betapa panasnya udara di Ujoh Bilang.

“Sekarang memang masa-masa kemarau di sini,” kata Kepala Adat Kampung Ujoh Bilang, Benidiktus Bith Unyang.

Meski demikian, masyarakat di Long Bagun tetap  sibuk berlalu-lalang menuju pusat aktivitas,  yakni di Jalan Poros Ujoh Bilang-Long Bagun. Kontur tanah bergelombang membuat banyak warga yang berpergian menggunakan sepeda motor trail. Ada juga sepeda motor bebek yang dimodifikasi menyerupai trail.

Mayoritas penduduk Ujoh Bilang sekarang banyak berprofesi sebagai pekerja kantoran. Sementara untuk masyarakat asli masih banyak yang menjala ikan di tepi sungai ataupun menanam padi di sekitaran rumah. 

“Sebelum menjadi kontraktor di PU (Dinas Pekerjaan Umum, Red) menjerat babi adalah mata pencaharian saya,” kata Dominingkus Aqim, penduduk Memahak Besar, Long Laham. 

Tampak luar, terdapat perbedaan yang cukup kontras dalam tatanan masyarakat sosial di Ujoh Bilang saat ini. Wajah kampung tak lagi didominasi warga yang mengenakan anjat (tas anyaman khas Dayak), Seraong (topi) warna-warni, ataupun menenteng Mandau Dayak.

Meski, secara ekonomi harga kebutuhan pokok masih melambung tinggi di kampung ini.
Dalam bincang ringan dengan kepala adat, awak media ini sempat bertanya. Apa benar jika masyarakat Dayak setempat menginginkan daerah mereka “disentuh” guna mendukung percepatan roda ekonomi.

Bukankah, dulu jauh sebelum Mahulu terbentuk, suku Dayak sudah terbiasa dengan keterasingan, berburu di hutan, mancing di sungai, tanpa keberadaan infrastruktur.

“Ya memang benar, yang sulit hanya transportasi sungai antar kampung saja sebelum ada mesin ketinting, dulu,” jawab Keke, sapaan kepala adat.

Di benak, terlintas pula pertanyaan, sebenarnya siapa yang membutuhkan infrastruktur di pedalaman sana ?
Toh, masyarakat dayak sebenarnya bahagia-bahagia saja hidup di tepi sungai, mencari ikan, dan berburu di hutan. Kalau perusahaan sawit, batu bara masuk ke kampung-kampung di pedalaman tentu dengan akses yang lebih baik, praktis mempercepat matinya eksotisme alam dan budaya suku Dayak seperti yang hampir terjadi saat ini.

"Kami setuju pembangunan berjalan tapi sesuai dengan batasan yang ada," jelas Keke lantas tersenyum tipis.

Belakangan pihak adat sering menyoal proyek-proyek pembangunan pemerintah yang menyentuh wilayah hutan adat. Ritual adat dimaksudkan sebagai pelindung bagi para pekerja. Wajib hukumnya untuk memotong sapi, kambing, babi, atau ayam sesuai kemampuan keuangan masing-masing sebelum memulai suatu pekerjaan.

“Pekerjaan pembangunan jika tanpa ritual adat pasti ada yang celaka, tidak diberkahi dan selalu saja ada kendalanya,” kata dia. "Dari dulu penentuan hutan tidak boleh tebang sembarang, sekarang banyak yang binasa karena itu. Wajib hukumnya menghormati segala penunggu gunung, tanah, serta penguasa alam lain,” jelas Keke. 

"Pernah ada seorang pekerja, didatangi (sesosok) orang tua dalam mimpinya. Katanya ia akan dibinasakan jika masih melanjutkan perkerjaan itu. Dia itu belum ada izin dengan kami, baru kami anjurkan memotong hewan dulu dan ritual adat dulu," katanya.

Mahulu sebagai kabupaten termuda di Kaltim, kata Keke, mendidik masyarakat ibarat mendidik seorang anak kecil. “Jika diajarkan langsung yang berat-berat akan kaget, begitu juga di sini,” kata lelaki berambut putih ini.

Penetrasi dari program potensial  dirasa dapat meningkatkan pendapatan daerah. Namun hal itulah yang memicu kekhawatiran tersendiri. Mahakam Ulu punya luas 15.315 kilometer persegi. Wilayah ini menjadi tempat hidup 27.924 jiwa di lima kecamatan dan 49 kampung. Kelima kecamatan itu Long Apari, Pahangai, Bagun, Laham, dan Hubung.

Di Ujoh Bilang, tradisi serta budaya membangun Rumah Betang (Lamin) mulai hilang. Di tengah masyarakat adat Dayak, virus modernisasi perlahan terus merangsek masuk dan merubah wajah perkampungan. Yang berbeda antara dulu dan sekarang hanya akses jaringan internet yang masih lelet. Aktivitas pembukaan lahan, dan proyek-proyek pembukaan akses jalan terus menggeliat.

Di sana-sini bangunan-bangunan perkantoran milik Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sekarang semakin mudah ditemui. Jika dibandingkan dulu, saat ini kawasan tersebut terbilang cukup megah. Apalagi jika melihat site plan pembangunan pusat perkantoran Kabupaten Mahulu. Cukup mencerminkan pusat-pusat pemerintahan seperti di kota-kota maju pada umumnya.

Rio (62), pelancong asal Medan yang hendak mendokumentasikan pariwisata adat budaya serta keunikan bentang alam di Mahakam Ulu, seperi kawasan Karst mengaku heran. Sebab, kata dia, eksostisme budaya dan alam, hutan lebat, batuan dinding di tepi Sungai Mahakam hanya didapati dan dinikmati sepanjang perjalanan menggunakan transportasi laut dari Tering-Ujoh Bilang.

“Saya kira saya akan banyak lihat Rumah Lamin, tapi justru tidak terlalu jauh berbeda. Di sana (pusat  pemerintahan Ujoh Bilang) bangunan punya pegawai sudah megah-megah. Cukup mewah, tapi sayangnya tidak mencerminkan nuansa Dayak itu sendiri. Banyak lahan yang juga sudah di buka di sini," kata pensiunan pegawai di Konsulat Jenderal Republik Indonesia untuk Perancis di Marseille itu.

Di Ujoh Bilang, sedikitnya tidak lebih dari lima Lamin tersedia. Sedangkan di Long Bagun tersedia sebanyak dua Lamin adat. Sisanya, ada dua di kawasan Batu Majang. Ya, sejak 2012 lalu satu persatu bangunan perkantoran berdiri di wilayah dengan kontur tanah bergelombang tersebut.



Satu dari dua Rumah Lamin yang terletak di Long Bagun.

Sebagian besar kantor masih bersifat sementara karena menyewa rumah milik warga setempat. Seperti kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), BPKAD, Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda), Dinas Pendidikan (Disdik), Dinas Kesehatan, ataupun Dinas Lingkungan Hidup. Sedangkan kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), serta kantor Bupati Mahulu sendiri memakai bangunan bekas kantor Kecamatan Mahulu, dulu.

Tampak mayoritas bangunan perkantoran jauh dari artistik adat Dayak. Pada umumnya, kontruksi bangunan mengadopsi kantor-kantor pemerintah di kota-kota besar. Berbahan beton namun tidak bertingkat. Dan untuk kantor yang masih menyewa masih terbuat dari kayu ulin.

Kampung Ujoh Bilang sendiri hanya berjarak selemparan batu dari kampung Long Bagun.
Di kawasan yang memiliki kontur tanah bergelombang itu merupakan cikal bakal pusat pemerintahan kabupaten termuda ini didirikan. Namun berbeda dengan di Ujoh Bilang, di Long Bagun masih agak kental suasana perkampungan Dayak.

Wajah masa depan perkantoran Kabupaten Mahakam Ulu di Long Bagun



Editor : Benny Oktaryanto
Tags : \\

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :