Pabrik yang pertama kali diresmikan Presiden Soeharto pada 1984 itu ia ibaratkan sebagai “dapur nasional” yang tak boleh tertinggal zaman.
EKSPOSKALTIM, Bontang – Pemerintah menargetkan penurunan harga pupuk bersubsidi jenis Urea dan NPK hingga 20 persen menyusul modernisasi pabrik amoniak di PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT). Proyek ini juga diproyeksikan menambah pasokan pupuk bersubsidi nasional hingga 700 ribu ton.
Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman menegaskan modernisasi atau revamping Pabrik Amoniak Kaltim-2 menjadi langkah strategis untuk menekan biaya produksi sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
“Selain efisiensi harga, proyek ini menjamin tambahan volume pupuk bersubsidi sebanyak 700.000 ton,” ujar Amran saat meresmikan proyek tersebut di Bontang, Kamis (30/1).
Menurut Amran, revamping ini bukan proyek berdiri sendiri, melainkan bagian dari peta jalan besar pemerintah dalam merevitalisasi industri pupuk nasional. Pemerintah menargetkan pembangunan tujuh pabrik pupuk baru, dengan lima pabrik rampung sebelum 2029.
Langkah tersebut diharapkan mampu menjawab persoalan klasik sektor pertanian: harga pupuk yang fluktuatif dan keterbatasan pasokan saat musim tanam.
Dari parlemen, Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto memberikan apresiasi terhadap modernisasi PKT yang dinilainya sejalan dengan agenda industri hijau berkelanjutan.
“Revamping ini memperkuat keunggulan kompetitif melalui penghematan gas alam. Konsumsi energi ditekan dan emisi karbon berkurang drastis hingga 110.000 ton CO2 ekuivalen per tahun. Ini adalah sinergi antara ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan,” tuturnya.
Sementara itu, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud menekankan nilai historis dan strategis PKT sebagai pilar pangan nasional. Pabrik yang pertama kali diresmikan Presiden Soeharto pada 1984 itu ia ibaratkan sebagai “dapur nasional” yang tak boleh tertinggal zaman.
“Revitalisasi ini bukan sekadar mengganti mesin tua, tetapi memastikan keandalan pasokan. Kita harus berani berinvestasi untuk masa depan pangan yang mandiri,” kata pria yang akrab disapa Harum.
Sebagai produsen Urea dan NPK terbesar di Asia Tenggara, kata dia, PKT diharapkan terus menjadi tulang punggung distribusi pupuk nasional, terutama dalam menopang kebutuhan petani di tengah tekanan global terhadap harga energi dan pangan.
Peresmian proyek revamping tersebut ditandai dengan penekanan sirene dan penandatanganan prasasti oleh Mentan Andi Amran Sulaiman, didampingi Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, serta jajaran direksi Danantara Asset Management dan Pupuk Indonesia.


