Kenaikan harga emas setiap hari disajikan masif di media sosial. Ini secara psikologis mendorong orang takut ketinggalan, padahal belum tentu sesuai dengan profil risikonya.
EKSPOSKALTIM, Samarinda – Lonjakan harga emas yang dipicu dinamika geopolitik dan ekonomi global diminta tidak disikapi secara gegabah. Pakar ekonomi Universitas Mulawarman (Unmul) Felisitas Defung mengingatkan masyarakat, khususnya investor pemula, agar tidak terjebak fenomena fear of missing out (FOMO) hanya karena tergiur tren kenaikan harga.
“Bagi investor pemula, jangan hanya terpicu karena harga sedang bagus. Investasi emas itu sifatnya jangka panjang, bukan untuk mengejar keuntungan sesaat,” ujar Defung, Jumat (30/1), dikutip dari antara.
Saat ini harga emas di pasaran terpantau berada di level tinggi. Produk Galeri24 dibanderol sekitar Rp3,26 juta per gram, sementara emas UBS menyentuh Rp3,27 juta per gram.
Menurut Defung, minat generasi milenial hingga Gen Z terhadap emas melonjak drastis seiring derasnya arus informasi di media sosial yang terus menampilkan grafik kenaikan harga harian.
“Kenaikan harga emas setiap hari disajikan masif di media sosial. Ini secara psikologis mendorong orang takut ketinggalan, padahal belum tentu sesuai dengan profil risikonya,” jelasnya.
Ia mengakui kehadiran platform investasi digital memang mempermudah masyarakat membeli emas dengan nominal kecil, bahkan mulai dari Rp500 ribu, tanpa harus langsung memiliki emas fisik satu gram.
Namun, kemudahan itu juga dibarengi risiko. Masyarakat diminta waspada terhadap aplikasi investasi ilegal dan memastikan platform yang digunakan terdaftar resmi di Bappebti.
Defung menambahkan investasi emas digital cocok bagi generasi muda yang mengutamakan kepraktisan. Sementara itu, emas fisik masih menjadi pilihan bagi mereka yang merasa lebih aman memegang aset secara langsung, meski harus menanggung biaya penyimpanan.
Yang paling penting, kata dia, adalah tidak memaksakan diri membeli emas saat harga sedang berada di puncak, apalagi jika modal yang digunakan berasal dari utang.
“Strategi terbaik adalah disiplin dan rasional. Jangan sampai membeli karena tren, apalagi dengan uang pinjaman,” tegasnya.
Defung menekankan pentingnya edukasi keuangan agar masyarakat Kalimantan Timur memiliki literasi yang memadai dan mampu menjadikan investasi sebagai instrumen perencanaan masa depan, bukan sekadar mengikuti euforia pasar.


