EKSPOSKALTIM, Bontang - Para pedemo yang merasa tuntutannya tak dipenuhi, terus menduduki Rumah Jabatan (Rujab) Walikota Bontang di Jalan Awang Long sampai saat ini.
Meski demikian tampak dari pantauan media ini, Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni justru tak berada di tempat untuk menemui peserta aksi.
Belum ada konfirmasi lanjutan terkait ketidakhadiran Neni. Dihubungi via telepon seluler, ia tak kunjung menjawab. Menurut informasi yang dihimpun, Wali Kota saat ini sedang berada di Kantor Walikota Bontang di kawasan Bontang Lestari.
"Informasi terakhir kami dapat Wali Kota Bontang melakukan rapat dengan DPRD membahas evaluasi terkait kenaikan tarif PDAM ini," kata Koordinator Lapangan (Korlap) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Bontang Sadly ditemui di sekitar Rujab.
Sementara, sampai saat ini para pedemo secara lantang mengancam akan menduduki Rujab sembari meminta Wali Kota Bontang turun dari jabatannya jika tidak mampu mendengarkan jeritan para peserta aksi.
Sejauh hasil pantauan media ini di Rujab Walikota Bontang, ratusan pedemo masih melakukan orasi dengan pengawalan ketat puluhan personel keamanan gabungan.
"Kebijakan yang anda ambil untuk menaikkan harga air sangat mencekik masyarakat Bontang, jika tak mampu turun saja," ujar Anto Perwakilan dari Federasi Serikat Buruh Bontang.
Mereka pun mendesak Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni beserta Direktur PDAM Tirta Taman Bontang Suramin untuk menarik kembali surat penetapan kenaikan harga air yang dinilai tidak pro rakyat.
"Ketika ibu Neni tidak lagi mampu memimpin dan mendengar aspirasi rakyat, lebih baik mundur, kami akan tetap di rumah jabatan, meskipun kami harus menginap disini, " tambah Sadly.
Diwartakan sebelumnya, usai menyampaikan aspirasi dengan mendatangi kantor Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bontang, rombongan pedemo langsung tengah bergerak menuju Rumah Jabatan (Rujab) Walikota Bontang di Jalan Awang Long. Ratusan pedemo mayoritas menggunakan kendaraan roda dua.
Sebagaian dari mereka juga ada yang memilih untuk long march atau berjalan kaki. Tampak dari pantauan media ini, iring-iringan massa yang dikomandoi Aliansi Masyarakat Bontang Menggugat (AMBM) meneriakan "turunkan harga air, kalau tidak bisa mundur".
Tiba di rujab sekira jam 12 siang, massa langsung dihadang oleh puluhan petugas gabungan dari Satuan Polisi Pamong Praja dan kepolisian yang berjaga ketat di sekitar pintu masuk.
Kedua pintu pagar masuk rujab ditutup rapat oleh petugas. Sekedar menghindari segala bentuk gangguan dan gejolak dari aksi massa gabungan itu.
Sampai saat ini, pedemo hanya menyampaikan aspirasinya di badan jalan tanpa ada seorang pun pejabat baik dari PDAM maupun Wali Kota Bontang menemui mereka.

