BONTANG - Musibah meninggalnya dua santri Pondok Pesantren Hidayatullah akibat terseret arus sungai beberapa waktu lalu, menyisakan duka mendalam bagi keluarga hingga masyarakat sekitar. Peristiwa yang terjadi pada Sabtu (14/2/2026) itu, menelan korban dua siswa kelas X SMA atas nama Satria Dwi Wardana dan Bilal Bashith Al-Musawir.
Keduanya meninggal dunia setelah tenggelam di aliran Sungai Bontang, yang berada tidak jauh dari lingkungan pesantren di Desa Suka Rahmat, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Kutai Timur. Kabar duka ini cepat menyebar dan mengundang simpati berbagai pihak, termasuk PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) melalui penyaluran santunan senilai Rp30 Juta bagi keluarga korban.
VP TJSL Pupuk Kaltim, Rezha Abdillah, mengatakan santunan kemanusiaan ini merupakan wujud kepedulian perusahaan bagi masyarakat yang sedang mengalami musibah. Terlebih Pupuk Kaltim tidak hanya hadir melalui program pemberdayaan, tapi juga berupaya memberikan dukungan saat masyarakat menghadapi situasi sulit.
“Kami turut berduka cita sedalam-dalamnya atas musibah yang menimpa dua santri Pondok Pesantren Hidayatullah. Kehilangan ini tentu menjadi duka bagi keluarga, pesantren maupun masyarakat sekitar,” ujar Rezha, Selasa (10/3/2025).
Dijelaskan Rezha, Pupuk Kaltim selama ini memiliki komitmen kuat untuk terus hadir di masyarakat, khususnya wilayah yang menjadi bagian dari program pembinaan perusahaan. Dimana Ponpes Hidayatullah merupakan salah satu binaan Pupuk Kaltim pada program PKT Hidayatullah, melalui konsep pertanian terintegrasi dan smart green house.
Program tersebut bagian dari upaya perusahaan mendorong pengembangan potensi lokal, sekaligus memperkuat ketahanan pangan berbasis masyarakat. Untuk itu, Pupuk Kaltim merasa memiliki tanggung jawab moral untuk turut memberi dukungan bagi keluarga besar pesantren yang sedang mengalami musibah.
"Kepedulian sosial merupakan salah satu nilai yang terus dijaga Pupuk Kaltim bagi masyarakat. Dan bantuan ini wujud empati serta kepedulian kami agar keluarga yang ditinggalkan sedikit terbantu saat situasi sulit ini,” kata Rezha.
Rezha pun berharap peristiwa ini dapat menjadi pembelajaran bersama bagi semua pihak, utamanya meningkatkan kewaspadaan di area yang memiliki potensi risiko seperti aliran sungai. Hal ini sejalan dengan fokus utama Pupuk Kaltim dalam operasional yang senantiasa mengedepakan aspek K3, dalam tiap aktivitas, agar segala potensi bencana bisa diantisipasi dengan baik.
“Semoga musibah ini jadi pengingat kita semua untuk lebih berhati-hati, sekaligus memperkuat solidaritas dan kepedulian antar sesama. Pupuk Kaltim memastikan untuk terus hadir di masyarakat, sesuai peran kami sebagai agen pembangunan melalui manfaat yang disalurkan," tambah Rezha.
Pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah, Syamsuddin, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kepedulian Pupuk Kaltim bagi keluarga santri yang tertimpa musibah. Kata dia, kepergian dua santri tersebut menjadi kehilangan besar bagi lingkungan ponpes Hidayatullah. Kedua korban dikenal sebagai siswa yang aktif mengikuti kegiatan belajar dan kehidupan pesantren sehari-hari.
"Musibah ini tentu menjadi ujian berat bagi kami. Namun solidaritas masyarakat menjadi penguat bagi kami, salah satunya Pupuk Kaltim yang juga turut hadir memberi dukungan," ucap Syamsuddin.
Namun demikian, peristiwa ini menjadi pengalaman dan pembelajaran bagi seluruh pihak ponpes, agar lebih waspada dan berhati-hati dalam beraktivitas. Terlebih lokasi sungai memang berada tidak jauh dari area pesantren, bahkan aliran air tersebut bersebelahan langsung dengan halaman pondok, sebelum akhirnya bermuara ke Sungai Bontang yang lebih besar.
"Sekali lagi kami ucapkan terima kasih kepada Pupuk Kaltim, yang senantiasa peduli kepada keluarga besar Ponpes Hidayatullah. Tidak hanya dalam hal pemberdayaan, tapi juga saat situasi kami seperti saat ini," tutup Syamsuddin. (*)


