Setelah penantian lebih dari tiga dekade, Indonesia kembali mencatat sejarah di sektor energi.
EKSPOSKALTIM, Balikpapan - Presiden Prabowo Subianto meresmikan operasional megaproyek kilang terintegrasi Refinery Development Master Plan (RDMP) Pertamina Balikpapan, kilang terbesar di Tanah Air yang digadang menjadi tulang punggung ketahanan dan kemandirian energi nasional.
Seremoni peresmian operasional megaproyek kilang terintegrasi atau Refinery Development Master Plan (RDMP) Pertamina di Balikpapan, Kalimantan Timur, digelar pada Senin (12/1/2026).
Prabowo menyampaikan rasa bangga atas beroperasinya kilang tersebut. Menurutnya, pencapaian ini merupakan prestasi besar bagi negara dan bangsa, hasil kerja keras banyak pihak dalam waktu yang tidak singkat.
“Saya menyambut dengan bahagia dan bangga atas apa yang kita hasilkan hari ini. Peresmian ini adalah prestasi penting bagi negara dan bangsa. Terima kasih kepada semua unsur yang bekerja keras sehingga kita bisa mencapai hal ini,” ujar Prabowo dalam peresmian yang disiarkan secara virtual Youtube Biro Pers Kepresidenan.
Prabowo menekankan pembangunan kilang RDMP Balikpapan memiliki nilai historis. Ia mengungkapkan, kilang besar terakhir yang diresmikan di Indonesia terjadi pada 1994, sebagaimana disampaikan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
“Artinya, 32 tahun yang lalu. Lumayan ya, cukup bersejarah,” ucap Prabowo.
Sebelumnya, Presiden sudah menyinggung agenda peresmian kilang ini dalam pidato Peresmian 166 Sekolah Rakyat di 34 provinsi yang dipantau secara daring melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden. Ia menyebut RDMP Balikpapan sebagai bukti konkret pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional.
“Saya harus ada acara lagi di Balikpapan, meresmikan suatu kilang, suatu modernisasi kilang minyak,” kata Presiden.
Prabowo menegaskan modernisasi kilang ini diharapkan mampu menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) sekaligus menghemat devisa negara.
“Dengan modernisasi kilang minyak ini, kita akan menghemat devisa yang banyak. Kita tidak perlu lagi impor-impor terlalu banyak BBM,” ujarnya.
RDMP Balikpapan merupakan proyek strategis nasional yang dijalankan PT Pertamina sebagai bagian dari komitmen pemerintah memenuhi kebutuhan energi dalam negeri dan mendorong swasembada energi.
Melalui proyek ini, Kilang Balikpapan memiliki kapasitas pengolahan hingga 360 ribu barel per hari. Angka tersebut setara dengan sekitar 22–25 persen kebutuhan nasional, atau hampir seperempat konsumsi BBM Indonesia.
Selain BBM, kilang ini juga mampu memproduksi LPG serta produk petrokimia hingga sekitar 283 ribu ton per tahun. Proyek RDMP Balikpapan ditargetkan meningkatkan kualitas BBM menjadi setara standar Euro V dengan kandungan sulfur 10 ppm, dari sebelumnya Euro II, serta meningkatkan yield valuable product hingga 91,8 persen.
Megaproyek dengan total investasi sekitar Rp123 triliun ini memodernisasi kilang eksisting melalui pembangunan fasilitas Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex. Fasilitas tersebut dirancang untuk mengoptimalkan pengolahan residu minyak menjadi bahan bakar dan produk petrokimia bernilai tinggi.
Dengan RFCC Complex, Kilang Balikpapan tidak hanya memproduksi BBM berkualitas tinggi dan lebih ramah lingkungan, tetapi juga menghasilkan produk petrokimia seperti propylene dan sulfur. Kehadiran kilang ini diharapkan menjadi pilar penting dalam hilirisasi industri petrokimia sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional dalam jangka panjang.



