EKSPOSKALTIM.COM - Pandemi Covid 19 sedang melanda seluruh dunia. Ternyata sudah 11 bulan Covid 19 melanda dunia dan sudah 8 bulan Covid 19 mewabah di Indonesia. Semua lini kehidupan masyarakat terkena dampaknya. Banyak dari kita yang tidak bisa melakukan aktifitas seperti biasanya, tidak bisa melakukan hobi, tidak bisa bertemu dengan teman atau keluarga. Dan yang paling parah lagi banyak diantara kita yang harus kehilangan pekerjaan, sumber penghasilan, usaha yang gulung tikar, bahkan kehilangan orang tersayang.
Sampai tanggal 27 Oktober 2020, sudah tercatat ada 400.000 kasus dengan korban meninggal sebanyak 13.612 jiwa di Indonesia.
Hal inilah yang terkadang menimbulkan ketakutan dalam diri kita. takut tertular virus, takut kehilangan pekerjaan, takut tidak bisa menghidupi keluarga dengan layak, dan masih banyak lagi ketakutan yang lainnya.
Baca Juga: Dinilai Ilegal, Bawaslu Bontang Bubarkan Paksa Pemaparan Hasil Survey LSI Denny JA
Situsasi seperti ini membuat kita sulit memandang sesuatu dengan optimis. Dan justru yang muncul adalah pemikiran-pemikiran yang negatif, dimana kita berfikir akan suatu hal yang sudah terjadi (masa lalu) atau suatu hal yang belum terjadi (masa depan).
Sebenarnya masa lalu bersifat netral yang membuat ia menjadi menyakitkan adalah kita membandingkan masa lalu kita dengan kehidupan kita sekarang, seperti “dulu aku bisa pergi kemanapun aku mau, tetapi sekarang aku tidak bisa melakukan hal itu”, “dulu aku punya segalanya, tetapi sekarang aku tidak punya apa-apa”, atau “dulu ada banyak orang yang ada disampingku, tetapi sekarang aku tidak punya siapa-siapa”. Pemikiran seperti inilah yang membuat kita sulit berdamai dengan masa lalu dan sulit untuk mensyukuri apa yang kita punya sekarang.
Begitupun dengan pikiran negatif akan masa depan, misalnya “sepertinya hari esok akan lebih buruk lagi dari pada saat ini”. Pemikiran seperti inilah yang semakin membuat kita cemas dan takut untuk melangkah kedepan dan justru hal ini yang akan mematikan kreatifitas dan menurunkan produktifitas kita ditengah pandemi.
Lalu, bagaimana caranya kita keluar dari pemikiran-pemikiran tersebut?
Salah satu caranya adalah denan mengembangkan kehidupan yang mindfull dengan hari ini. Germer, Siegel, dan Fulton menjelaskan mindfull atau lebih sering kita mendengarnya dengan mindfullness sebagai suatu kondisi kesadaran pada saat ini dengan penuh penerimaan.
Dan menurut John Kabat-Zinn mindfulness adalah pemberian perhatian dengan sengaja, pada saat ini, dan tidak memberikan penilaian. Secara sederhana mindfullness adalah kondisi dimana kita memberikan perhatian penuh pada tubuh, pikiran dan perasaan pada saat ini, tanpa berangan-angan akan masa lalu ataupun masa depan. Mari kita kupas satu persatu.
1. Pemberian perhatian secara sengaja yaitu upaya untuk memperhatikan dengan sadar apapun yang sedang kita lakukan dan pikirkan. Contohnya ketika sedang makan kita menyadari dan menghayati setiap makanan yang kita suapkan ke mulut kita dan ketika bernafas kita benar dari dan menghayati Setiap nafas yang kita hirup.
Dengan kita fokus memperhatikan dan menghayati setiap apapun yang kita lakukan kita akan mudah untuk menyadari bahwa masih banyak karunia Allah yang diberikan kepada kita. Selain itu juga kita akan menyadari momen-momen kecil yang sebenarnya sangat berharga dalam hidup kita seperti ketika bersama dengan keluarga yang sebelumnya mungkin kita jarang melakukannya karena kesibukan kita di luar rumah tetapi Allah memberikan waktu itu di tengah pandemi ini.
2. Pemberian perhatian pada apa yang terjadi saat ini tanpa memikirkan apa yang terjadi kemarin dan apa yang akan terjadi pada esok hari. Contohnya ketika kita makan hanya menikmati hidangan yang ada di depan kita tanpa memikirkan kemarin makan apa dan esok hari akan makan apa. Hal ini kita lakukan bukan berarti saat ini adalah hal yang terbaik tetapi yang menjadi adalah saat ini.
Lihat Juga: VIDEO : Reses di Bontang, Sutomo Jabir Soroti Tenaga Kerja Lokal dan Pelabuhan Loktuan
Kemarin sudah menjadi sejarah dan hari esok masih menjadi rahasia Allah. Dengan melakukan hal ini kita akan mudah untuk mensyukuri dan menikmati setiap momen yang terjadi saat ini dan akan meminimalisir terjadinya kecemasan dalam diri kita.
3. Memberikan perhatian tanpa menghakimi, yaitu membiarkan segala pengalaman yang hadir dalam hidup kita tanpa menghakimi atau memberikan lebel sebagai pengalaman yang menyedihkan atau yang membahagiakan. terima apa adanya apapun yang terjadi dalam hidup kita karena itu adalah bagian dari kehidupan. Seperti yang pernah diutarakan oleh Rhaka Ghanisatria “berjatuh cintalah dengan takdir apapun yang Ia kasih”.
Jadi, mau mencoba hidup dengan mindfull?
Penulis: Aini Khoiriyah (Mahasiswi IAIN Samarinda)
Artikel di atas menjadi tanggung jawab penulis, bukan redaksi EKSPOSKaltim.com

