Dishub Samarinda menilai potensi kendaraan yang mencapai ratusan ribu unit selama ini belum dimanfaatkan maksimal.
EKSPOSKALTIM, Samarinda – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda memasang target ambisius dari sektor perparkiran. Melalui program parkir berlangganan yang tengah dimatangkan, Dinas Perhubungan (Dishub) Samarinda optimis mampu menyerap Pendapatan Asli Daerah (PAD) hingga Rp200 miliar per tahun.
Target tersebut bukan muncul tanpa dasar. Dishub mengeklaim perhitungannya bertumpu pada potensi kendaraan yang saat ini beredar di Kota Tepian, yang jumlahnya bahkan disebut telah melampaui total penduduk Samarinda.
Kepala Bidang Lalu Lintas dan Jalan (LLJ) Dishub Samarinda, Boy Leonardo Sianipar, mengatakan target PAD yang terus meningkat setiap tahun merupakan konsekuensi dari kebutuhan pembiayaan pembangunan daerah sekaligus cerminan pertumbuhan ekonomi masyarakat.
“Dan kebetulan target Kota Samarinda semakin tahun meningkat,” ujarnya pada EksposKaltim.
Menurut Boy, peningkatan target tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi masyarakat terus bergerak positif, baik dari sisi pendapatan maupun kepatuhan terhadap kewajiban pembayaran pajak dan retribusi.
Dalam konteks sektor perparkiran, Dishub menilai program parkir berlangganan menjadi instrumen yang mampu mengubah potensi kendaraan yang selama ini belum tergarap maksimal menjadi sumber pendapatan daerah yang signifikan.
“Sehingga secara hitung-hitungan masuk ketika memang semuanya sudah menggunakan jasa parkir berlangganan. Dan itu target berdasarkan potensi,” jelasnya.
Skema parkir berlangganan sendiri sebelumnya menuai kritik dari sejumlah kalangan. Namun Dishub menegaskan angka Rp200 miliar bukan sekadar angka optimis yang dibuat tanpa dasar.
Boy mengungkapkan berdasarkan data kendaraan yang dimiliki pemerintah, jumlah kendaraan roda dua di Samarinda saat ini mencapai sekitar 750 ribu unit, sementara kendaraan roda empat mencapai sekitar 105 ribu unit.
“Dan itu lebih banyak dari jumlah penduduk kita,” ungkapnya.
Data tersebut, kata dia, menjadi fondasi utama dalam penyusunan proyeksi pendapatan dari program parkir berlangganan.
“Jadi memang benar itu datanya dan bukan mengira-ngira,” tegasnya.
Jika jumlah kendaraan tersebut dikalikan dengan tarif parkir berlangganan yang telah dirancang pemerintah, yakni Rp400 ribu per tahun untuk kendaraan roda dua dan Rp1 juta per tahun untuk kendaraan roda empat, maka potensi penerimaan daerah dinilai sangat besar.
Karena itu, Boy menilai angka Rp200 miliar bukanlah target yang terlalu tinggi terlebih pada kondisi ekonomi saat ini.
“Jadi memang masuk secara hitungan, jadi bukan target,” ujarnya.
Meski demikian, Dishub mengakui bahwa target tersebut masih akan dievaluasi kembali melalui mekanisme rasionalisasi anggaran apabila perkembangan di lapangan menunjukkan capaian yang berbeda dari proyeksi awal.
“Bulan Oktober kita akan ada laporan merasionalkan kembali target itu. Makanya tidak apa-apa ditarget tinggi, itu bagian dari optimisme bahwa kita akan melaksanakan program ini dengan optimal,” jelasnya.
Target Rp200 miliar ini menjadi taruhan besar bagi Pemkot Samarinda karena untuk pertama kalinya sektor parkir diposisikan sebagai salah satu tulang punggung utama penerimaan daerah.
Namun Boy juga meluruskan bahwa total target PAD Dishub Samarinda untuk tahun ini sebenarnya dipatok sebesar Rp204 miliar. Sektor perparkiran memegang porsi utama dalam target tersebut.
“Dari Rp 204 miliar itu, Rp4 miliar untuk target di hal-hal lain seperti dermaga dan lain sebagainya,” pungkasnya.



