Kematian Ketua BPD Tukung Ritan akibat ditabrak bus perusahaan di Tabang memicu amarah warga hingga berujung pembakaran kendaraan.
EKSPOSKALTIM, Tenggarong - Kecelakaan maut di Kecamatan Tabang, Kutai Kartanegara, merenggut nyawa Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Tukung Ritan. Korban meninggal dunia setelah sepeda motor yang dikendarainya ditabrak bus perusahaan di Jalan Poros Umum Tabang, Jumat (19/12) pagi.
Tragedi ini tidak berhenti pada kecelakaan. Kabar meninggalnya tokoh desa tersebut memicu emosi warga. Amarah sempat memuncak hingga berujung pada pembakaran bus perusahaan yang terlibat dalam insiden tersebut.
Camat Tabang, Rakhmadani Hidayat, menjelaskan kecelakaan terjadi sekitar pukul 07.00 Wita di ruas jalan penghubung Desa Long Lalang menuju Desa Gunung Sari. Saat itu, korban tengah melintas menggunakan sepeda motor sebelum ditabrak bus perusahaan.
“Korban warga Desa Tukung Ritan dan meninggal dunia di tempat kejadian,” ujar Rakhmadani dikutip Sabtu (20/12).
Ia mengatakan duka mendalam yang dirasakan keluarga dan masyarakat sekitar dengan cepat berubah menjadi reaksi emosional. Aksi spontan warga kemudian berujung pada pembakaran bus perusahaan sebagai pelampiasan kemarahan atas peristiwa tersebut.
Situasi sempat tegang, namun tidak berlangsung lama. Pemerintah kecamatan bersama pemerintah desa dan pihak perusahaan segera turun tangan melakukan mediasi. “Mediasi dilakukan sekitar pukul 13.00 Wita di kantor desa. Dari pertemuan tersebut sudah tercapai kesepakatan, sehingga kondisi saat ini relatif aman dan kondusif,” jelasnya.
Rakhmadani menyebut ruas jalan lokasi kejadian memang rawan kecelakaan, terutama pada pagi hari. Aktivitas sekolah dan lalu lintas kendaraan perusahaan yang beririsan langsung dengan permukiman warga membuat jalur tersebut kerap padat.
Terkait pembakaran bus, ia menilai peristiwa itu murni luapan emosi masyarakat atas meninggalnya tokoh penting di desa mereka. Pihak perusahaan, kata dia, juga menunjukkan sikap kooperatif dan itikad baik untuk bertanggung jawab.
“Untuk bus yang dibakar, kecil kemungkinan perusahaan akan menuntut ganti rugi. Ini murni luapan emosi warga akibat kejadian tragis,” tambahnya.
Ia juga menanggapi keberadaan atribut dan senjata adat yang sempat terlihat di lokasi kejadian. Menurutnya, hal tersebut merupakan bagian dari kebiasaan masyarakat adat Tabang dalam merespons peristiwa luar biasa.
“Memang sudah menjadi kebiasaan masyarakat adat di Tabang itu sejak dulu. Baik dalam kegiatan adat maupun ketika menghadapi kejadian luar biasa,” katanya.
Saat ini, lanjut Rakhmadani, kondisi wilayah telah kembali kondusif. Pemerintah kecamatan memastikan akan terus memantau situasi dan mengawal komitmen pihak perusahaan sesuai hasil kesepakatan mediasi.


