PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Karhutla di Samarinda Makan Korban Jiwa, BPBD Ungkap Peta Zona Rawan

Home Berita Karhutla Di Samarinda Mak ...

Kebakaran di Jalan Anggur, Samarinda Ulu, tak hanya menghanguskan lahan sekitar 700 meter persegi, tetapi juga berujung pada kematian seorang lansia


Karhutla di Samarinda Makan Korban Jiwa,  BPBD Ungkap Peta Zona Rawan
ILUSTRASI karhutla — BPBD Samarinda memetakan kawasan Jalan Anggur, Kelurahan Sidodadi, Samarinda Ulu, sebagai zona rawan karhutla tingkat menengah hingga tinggi. Foto: BPBDSamarinda

EKSPOSKALTIM, Samarinda – Kebakaran lahan di Jalan Anggur, Gang SD, Sidodadi, Samarinda Ulu yang berujung pada meninggalnya seorang lansia, menyoroti risiko kebakaran di kawasan yang berbatasan langsung dengan permukiman.

BPBD Samarinda mengungkapkan wilayah tersebut masuk dalam pemetaan zona rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tingkat menengah hingga tinggi.

Kepala BPBD Samarinda, Suwarso, mengatakan karakteristik wilayah Samarinda Ulu dan sekitarnya membuat kebakaran lahan berpotensi mengancam keselamatan warga. Area vegetasi dan lahan kosong yang berdampingan dengan permukiman menjadi salah satu faktor risiko yang perlu diantisipasi.

“Memang wilayahnya masuk dalam pemetaan zona rawan Karhutla tingkat menengah hingga tinggi dalam Dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB) Kota Samarinda,” kata Suwarso kepada EksposKaltim, Jumat (16/10).

Menurutnya, kawasan tersebut memiliki topografi berbukit dengan kombinasi lahan semak belukar yang berbatasan langsung dengan permukiman warga. Kondisi ini membuat risiko kebakaran tidak hanya berkaitan dengan luas lahan yang terbakar, tetapi juga kemungkinan api merambat ke lingkungan tempat tinggal.

Berdasarkan evaluasi lapangan pihaknya, penanganan kebakaran lahan (firefighting) di area pemukiman padat atau vegetasi campuran memiliki tantangan tersendiri.

“Terutama terkait cepatnya perambatan api akibat tiupan angin, kerapatan semak, serta kondisi fisik lansia yang rentan terhadap paparan asap tebal maupun rasa panik saat evakuasi mandiri,” jelasnya.

Peristiwa di Jalan Anggur terjadi pada Selasa (13/10). Kebakaran diperkirakan melanda lahan seluas 700 meter persegi. Di lokasi tersebut, seorang pria berusia 60 tahun ditemukan tergeletak dengan luka bakar serius dari bagian pinggang hingga ke bawah tubuhnya.

Korban sempat dievakuasi ke RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda untuk mendapatkan penanganan medis. Namun, luka bakar yang mencapai sekitar 60 persen membuat kondisinya kritis hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Rabu (14/10) pagi.

Atas kejadian tersebut, Suwarso menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.

“Atas nama jajaran BPBD Kota Samarinda, kami menyampaikan rasa duka cita yang mendalam kepada keluarga almarhum,” ujarnya.

BPBD Perkuat Patroli dan Edukasi

Menyusul kejadian tersebut, BPBD Samarinda menyatakan memperkuat langkah pencegahan untuk mengantisipasi kebakaran lahan yang berpotensi kembali menimbulkan korban jiwa. Salah satunya melalui penguatan Forum Kelurahan Tangguh Bencana (Katana) dan patroli bersama relawan di tingkat kelurahan.

Patroli diarahkan untuk memantau titik-titik rawan kebakaran, terutama saat cuaca terik dan kering. Pemantauan tersebut diharapkan membantu mendeteksi potensi kebakaran lebih awal sebelum api meluas dan mengancam kawasan permukiman.

Selain patroli, BPBD juga menekankan edukasi kepada masyarakat, khususnya keluarga yang tinggal berdekatan dengan lahan bervegetasi. Suwarso menyebut sosialisasi perlu menyasar kelompok rentan, seperti lanjut usia, anak-anak, dan penyandang disabilitas, agar keluarga maupun warga sekitar memahami langkah evakuasi cepat saat muncul kepulan asap atau kebakaran.

“Kami juga mengimbau masyarakat dan pemilik lahan agar tidak membakar sampah maupun membersihkan lahan dengan cara dibakar. Karena api di lahan kering dapat merambat dengan cepat dan sulit dikendalikan,” jelasnya.

Dalam penanganan kebakaran yang mengancam permukiman, BPBD mengandalkan laporan masyarakat melalui Call Center 112 maupun kanal komunikasi BPBD. Setelah laporan diterima, Tim Reaksi Cepat (TRC) berkoordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, TNI/Polri, serta relawan untuk menuju lokasi.

Suwarso menjelaskan, prosedur penanganan karhutla di dekat permukiman membagi tugas antara tim evakuasi atau penyelamatan dan tim pemadaman. Tim evakuasi diprioritaskan menyisir bangunan atau pondok di sekitar lahan untuk mencari warga yang mungkin terjebak atau terpapar asap, sedangkan tim pemadaman berfokus mengendalikan api, terutama di bagian yang paling dekat dengan permukiman.

“Dalam SOP penanggulangan karhutla dekat pemukiman, operasi dibagi dua: Tim Evakuasi/Penyelamatan dan Tim Pemadaman,” jelasnya.

Untuk penanganan awal korban, setiap tim TRC dibekali peralatan dasar pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) dan tabung oksigen portabel.

“Peralatannya digunakan untuk memberikan penanganan awal kepada korban yang mengalami sesak napas atau luka bakar ringan, sebelum dikoordinasikan dengan posko ambulans atau rumah sakit terdekat,” pungkasnya.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :