EKSPOSKALTIM, Balikpapan - Alam tidak akan murka ketika manusia memperlakukannya dengan kasih dan kepedulian. Prinsip sederhana itu menjadi napas hidup bagi warga Kampung Iklim Sepinggan, Balikpapan. Di tangan mereka, air hujan bukan sekadar jatuh begitu saja lalu menggenang. Mereka menadahnya, menyimpannya, dan memakainya untuk kebutuhan sehari-hari.
Gerakan ini dipimpin Abdul Rahman. Warga menyiapkan bak penampung berkapasitas 1.000 sampai 2.000 liter di rumah masing-masing. Air hujan itu dipakai untuk mandi, kebutuhan domestik, hingga budidaya ikan dan tanaman hidroponik. Gerakan ini penting karena permukiman tersebut berada tiga kilometer dari jalan raya dan belum terlayani PDAM.
“Jadi air hujan itu tidak lari ke jalan atau ke selokan yang bisa memicu banjir, tapi larinya ke rumah masing-masing untuk dimanfaatkan,” ujar Rahman.
Sebelum gerakan ini berjalan, warga harus membeli air tandon. Kini mereka berhemat sekaligus mandiri secara ekologi. Lingkungan pun diuntungkan karena limpasan air berkurang dan risiko banjir menurun.
Keberkahan dari sampah
Sampah rumah tangga juga menjadi perhatian utama. Rahman mendorong warga memilah sampah sejak dari rumah, sesuai kebijakan pemerintah kota. Sampah anorganik bernilai ekonomis ditabung ke Bank Sampah. Warga punya buku tabungan, ditimbang, dicatat, dan diuangkan.
“Masyarakat mendapatkan nilai rupiah dari sampah yang mereka kumpulkan. Ada buku tabungan sampahnya,” kata Rahman. Sistem ini juga terhubung dengan aplikasi dari P3E Kalimantan. Dalam sebulan, sekitar 15 ton sampah berhasil dikelola.
Sampah organik yang tidak masuk ke Bank Sampah diolah menjadi kompos, pupuk cair, eco-enzyme, hingga pakan maggot. Maggot itu kemudian menjadi pakan ikan. Siklusnya utuh, tidak ada yang terbuang.
Rahman juga mengolah limbah dapur menjadi sabun organik berbahan dasar kulit buah. Air bekas cucian dari sabun itu justru menyuburkan tanah.
“Sabun ini terbuat dari limbah dan kembali memberi kebaikan alam,” ujarnya.
Sabun cair itu dipakai untuk mengepel, mencuci baju, atau mencuci piring. Buihnya tidak banyak seperti sabun pabrik, tapi mampu menghilangkan noda membandel. Aroma fermentasi muncul sebagai tanda adanya alkohol alami yang berfungsi sebagai disinfektan.
Proses pembuatannya butuh fermentasi tiga bulan. Air cuciannya juga membantu menghilangkan bau di parit. Inovasi ini ia dapatkan dari pelatihan daring KLHK saat pandemi 2020. Konsistensinya mengantar Rahman meraih pengakuan nasional pada 2021.
Selain sabun, warga juga mengolah limbah plastik tak bernilai dari pantai menjadi paving block melalui proses pembakaran.
Perjalanan panjang menuju kampung berseri
Perubahan besar itu tidak terjadi seketika. Ketika Rahman pindah pada 2007, kawasan itu hanya TPS liar. Orang membuang dan membakar sampah sesuka hati. Ia mulai membersihkan lahan, menanam pohon, dan mengajak warga berubah. Pada 2012 ia membentuk Bank Sampah, cikal bakal transformasi lingkungan di Sepinggan.
Konsistensi selama lebih dari satu dekade membuat wilayah ini menerima Trofi Utama Proklim dari KLHK pada 2021. Semangat warga terus tumbuh hingga kini masuk ke program Kampung Berseri Astra (KBA) dengan cakupan satu kelurahan lengkap, total 70 RT.
Pilar-pilarnya pun jelas: RT 01 untuk Aman dan Tangguh, RT 54 untuk Lingkungan, RT 18 untuk Kewirausahaan, lalu RT 05 dan 06 untuk Pendidikan dan Kesehatan.
Perjalanan Sepinggan membuktikan bahwa harmoni manusia dan alam bukan mimpi kosong. Dengan menadah hujan dan mengolah limbah, mereka bukan hanya melindungi lingkungan tempat tinggal, tapi juga memberi manfaat bagi bumi yang mereka pijak.

