PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Harga Melonjak saat Mahulu Kekeringan, Jalan Darat Harus Prioritas

Home Berita Harga Melonjak Saat Mahul ...

Harga Melonjak saat Mahulu Kekeringan, Jalan Darat Harus Prioritas
Kerusakan jalan akibat cuaca ekstrem di Mahakam Ulu. Foto via Bisnis.com

Samarinda, EKSPOSKALTIM – Pengamat ekonomi Universitas Mulawarman (Unmul), Purwadi Purwoharsojo, menyoroti buruknya akses distribusi pangan di Mahakam Ulu (Mahulu), Kalimantan Timur. Pemerintah Provinsi Kaltim mestinya segera memprioritaskan pembangunan infrastruktur jalan darat yang berkualitas.

“Hal yang mendesak adalah membangun jalan darat yang layak. Ini harus jadi prioritas,” kata Purwadi di Samarinda, Rabu (30/7).

Menurut dia, ketergantungan Mahulu pada transportasi sungai menyebabkan wilayah itu rentan saat menghadapi bencana, seperti banjir atau kekeringan ekstrem. Kondisi sungai yang dangkal saat kemarau membuat distribusi barang lumpuh total.

“Pengiriman sembako itu hanya solusi jangka pendek, ibarat pemadam kebakaran yang baru bertindak ketika ada api. Tidak menyentuh akar masalah,” ujarnya.

Mahulu, lanjut Purwadi, memiliki siklus alam yang khas—banjir besar saat musim hujan dan kekeringan parah saat kemarau panjang. Kedua kondisi ini mempersulit mobilitas orang dan barang.

Solusi mendasarnya, kata dia, adalah membangun akses jalan darat yang terkoneksi antarkampung dan berkualitas tinggi. “Bangun jalan seperti kualitas tol. Itu akan mempercepat distribusi dan menggerakkan ekonomi,” katanya.

Purwadi juga mengkritik lambannya pembangunan akibat persoalan birokrasi soal kewenangan antarlevel pemerintahan. Padahal, menurut dia, hal ini bisa diatasi dengan kolaborasi dan kemauan politik yang kuat.

“Harus ada perubahan cara pandang. Prioritaskan jalan dan jembatan sebagai kunci membuka isolasi Mahulu,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala BPBD Mahulu Agus Darmawan mengatakan, harga bahan pokok kini melonjak tajam. Beras kemasan 25 kilogram tembus Rp800 ribu hingga Rp1 juta, sedangkan elpiji 12 kilogram mencapai Rp800 ribu per tabung.

Agus menyebut dampak kekeringan mulai dirasakan warga sejak pekan lalu, terutama di tiga kampung di Kecamatan Long Apari: Long Apari, Noha Tivab, dan Noha Silat. Total ada 569 jiwa yang terdampak langsung.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :