EKSPOSKALTIM, Samarinda - Dari hasil penelitian yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Kaltim pada 2012, potensi tanaman obat di Kaltim dinilai mampu mendongkrak kesejahteraan perekonomian masyarakat.
Dari total 9 Kabupaten di Kaltim, diperoleh 27 ramuan obat dan 25 jenis herbarium yang digunakan masyarakat. Sedangkan dari survei Balitbangda Kaltim, diperoleh 73 jenis tanaman obat.
Berdasarkan letak geografisnya, Kaltim merupakan provinsi dengan hutan tropis yang kaya akan tanaman herbal. Artinya, apabila dikembangkan mampu menjadi aset yang berharga bagi daerah.
Namun, kesadaran akan potensial tersebut masih sangat jauh, bahkan minim.
Karena eksploitasi alam, penebangan hutan disusul pembukaan hutan untuk perkebunan dan pertambangan batu bara, mengakibatkan banyak tanaman mulai punah dan langka.
Hal tersebut menjadi perhatian tersendiri bagi anggota Komisi II Bidang Keuangan dan Perekonomian DPRD Kaltim Ali Hamdi. Dia mengatakan pemerintah seharusnya lebih sadar potensi besar yang Kaltim miliki.
“Potensi pasar herbal yang semakin berkembang semestinya bisa membuat para petani secara otomatis semakin sejahtera. Oleh sebab itu maka pemerintah melalui dinas terkait agar bisa membuat program yang berkaitan dengan pengembangan tanaman herbal,” ungkap Politikus PKS, Rabu (30/8).
Data yang diperoleh dari Dinas Pertanian Pangan dan Hortikultura Kaltim, kata dia, tidak tercatat petani yang membudidayakan tanaman obat asli Kaltim.
"Ini yang perlu disayangkan padahal potensi tanaman herbal sangat melimpah, mampu diolah menjadi berbagai macam produk kecantikan, makanan, dan yang terpenting adalah obat-obatan bagi kesehatan," ujarnya.
Sementara itu, Peneliti Tanaman Obat Laboraturium Laboratorium Kimia hasil Hutan, Fakultas Kehutanan (Fahutan) Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda Harlinda Kuspradini mengaku potensi tanaman herbal di Kaltim sangat besar. Bahkan tanaman langka sekalipun ada di hutan Kaltim.
“Saya memilih tumbuhan asli Kalimantan karena sebagai orang Kalimantan, kita perlu tahu potensi kekayaan daerah. Hasil hutan tidak melulu kayu, tapi ada hasil hutan bukan kayu yang punya banyak potensi. Tak kenal maka tak sayang,” tutupnya. (adv)

