EKSPOSKALTIM.COM, Samarinda - Anggota Komisi I DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), Agiel Suwarno, menyoroti banjir yang melanda beberapa kawasan Kutai Timur dan Berau dalam sepekan ini.
Menurutnya, penyebab banjir ini tak lain dan tak bukan dikarenakan faktor alam.
Faktor-faktor tersebut salah satunya pembabatan hutan yang masif sehingga potensi penyerapan air yang rendah.
Bahkan beberapa kawasan banjir diklaim menjadi kawasan tambang dan perkebunan sawit.
Sehingga kawasan hijau semakin tipis akibat kedua aktivitas tersebut.
"Eksploitasi secara berlebihan akhirnya mengakibatkan daerah yang dulunya hutan sebagai sumber resapan air sekarang tidak ada lagi," kata politisi PDI-Perjuangan ini.
Untuk saat ini ia berharap pemerintah kabupaten maupun provinsi saling bahu membahu mengatasi permasalahan banjir tersebut. Salah satunya merencanakan penanganan di daerah yang sangat rawan banjir.
"Daerah yang menjadi korban bencana ini bisa diatur, seperti daerah yang gundul dilakukan penghijauan. Ini menjadi tanggung jawab pemerintah daerah dan provinsi," pungkasnya.
Sebelumnya Gubernur Kaltim Isran Noor membantah faktor banjir dikarenakan aktivitas tambang.
Justru pembukaan lahan perkebunan menjadi alasan penyebabnya menurun kapasitas penyerapan air.
"Bukan, enggak ada di sana bukan tambang di sana banyak kebun banyak pembukaan lahan," ucapnya, Rabu (26/5/2021).
Menurutnya banjir tersebut memang disebabkan curah hujan tinggi.
Kapasitas curah hujan tinggi dan minimnya kawasan hijau memperparah kondisi tersebut.
"Masih ada kemungkinan hujan mudah-mudahan jangan terjadi lagi banjir. Kebanyakan hujan dari langit," ucapnya.
Saat ini pihaknya masih menunggu laporan jumlah kerugian dari masing-masing kepala daerah.
Rencananya dalam waktu dekat Isran Noor akan mendatangi kawasan banjir tersebut.
"Belum ada rencana kita menunggu laporan perkembangan terakhir," katanya. (adv)

