PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Cerita El-Rayyi, Putra Kaltim Pertama yang Bentangkan Merah Putih di Istana

Home Berita Cerita El-rayyi, Putra Ka ...

Cerita El-Rayyi, Putra Kaltim Pertama yang Bentangkan Merah Putih di Istana
El-Rayyi Mujahid Faqih saat menjadi pembentang Bendera Merah Putih dalam Upacara Detik-detik Proklamasi HUT ke-80 RI/Foto: Istimewa (dok BPMI Setpres)

Samarinda, EKSPOSKALTIM – 17 Agustus 2025 jadi hari bersejarah bagi Kalimantan Timur. El-Rayyi Mujahid Faqih, siswa SMK Kehutanan Negeri Samarinda, menjadi putra Kaltim pertama yang membentangkan Bendera Merah Putih di Istana Merdeka. Sejak Indonesia merdeka, belum ada yang mendapat kehormatan ini dari wilayahnya.

El-Rayyi bergabung dalam tim Paskibraka Nasional 2025 bertema Indonesia Berdaulat. Bersamanya, Putri Nur Azizah dari SMK Putra Bangsa Bontang juga lolos seleksi nasional. Mereka melewati rangkaian tes fisik, wawasan kebangsaan, psikotes, hingga evaluasi kesehatan, dinilai oleh BPIP, TNI, Polri, dan tenaga ahli.

Seleksi ketat itu diakhiri dengan pengukuhan resmi pada 13 Agustus di Jakarta, diikuti latihan intensif hingga hari-H. El-Rayyi menonjol karena prestasinya tidak hanya akademik. Aktivitasnya di OSIS, Pramuka, bela diri, hingga kegiatan keagamaan membentuk disiplin, kepemimpinan, dan tanggung jawab—bekal penting saat mengemban tugas sakral membentangkan bendera pusaka.

Kehadirannya juga mengangkat dunia pendidikan kehutanan ke panggung nasional, sekaligus menjadi simbol generasi muda Kaltim yang mampu bersinar di level tertinggi.

Dari Minder ke Panggung Nasional

Perjalanan keduanya tidak mudah. Putri sempat ingin mundur karena masalah gigi serius, tapi semangat keluarga dan pamong membawanya lolos hingga seleksi nasional. “Awalnya saya minder, tapi ternyata bisa masuk peringkat tiga di Bontang,” ungkapnya kepada EKSPOSKALTIM, baru tadi.

Bagi Putri, Paskibraka adalah langkah awal mewujudkan cita-cita menjadi abdi negara dan Kowad.

El-Rayyi justru menaruh minat sejak kecil. Menyaksikan upacara 17 Agustus di TV memantik impian yang kemudian diperkuat pengalaman baris-berbaris dan Pramuka. “Sejak SD saya suka baris-berbaris. Waktu lihat Paskibraka, saya bertanya, ‘apakah saya bisa sampai di sana?’” katanya, dihubungi media ini.

Sekolah pun mendukung penuh. Latihan musik tradisional, tari, hingga PBB jadi bagian pengembangan minat dan bakatnya. Di seleksi nasional, ia bahkan tampil dengan alat musik sape, menunjukkan kreativitas sekaligus disiplin.

Kisah mereka membuktikan, rasa minder dan tantangan bukan penghalang kalau ada tekad dan dukungan yang kuat.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :