PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Awal Ramadan Bisa Beda, Kemenag: Itu Hal yang Wajar

Home Berita Awal Ramadan Bisa Beda, K ...

Kementerian Agama menegaskan perbedaan penetapan awal Ramadan di Indonesia bukan hal baru dan perlu disikapi dengan saling menghormati.


Awal Ramadan Bisa Beda, Kemenag: Itu Hal yang Wajar
Ilustrasi - Petugas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Aceh Besar mempersiapkan teleskop untuk memantau hilal penetapan awal Ramadhan 2021 di pesisir pantai Lhoknga, Aceh Besar, Aceh, Senin (12/5/2021). Foto: ANTARA

EKSPOSKALTIM, Jakarta - Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama Arsad Hidayat mengatakan potensi perbedaan penetapan awal Ramadan di Indonesia merupakan hal yang wajar dan kerap terjadi.

Menurut Arsad, perbedaan tersebut muncul karena organisasi kemasyarakatan Islam menggunakan metode penentuan awal bulan hijriah yang tidak sama.

“Sebenarnya kalau berbeda itu biasa, karena cara pandang dan cara penetapan dari ormas-ormas Islam memang tidak sama,” ujar Arsad di Jakarta, Selasa (10/2). 

Ia menjelaskan sebagian ormas menggunakan metode hisab, sebagian lainnya menggunakan rukyatul hilal, sementara pendekatan baru merujuk pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Arsad menyebut perbedaan juga dipengaruhi konsep hilal global dan hilal lokal. Jika pendekatannya berbeda, hasil penetapannya pun berpotensi tidak sama.

Untuk menyikapi perbedaan itu, pemerintah melalui Kementerian Agama menggelar sidang isbat sebagai forum musyawarah bersama. Dalam sidang tersebut, seluruh ormas Islam diundang untuk menyampaikan pandangan masing-masing.

“Kita undang semua ormas, Muhammadiyah, NU, Persis, dan lainnya. Pandangan mereka kita dengarkan, lalu dimusyawarahkan untuk diambil keputusan yang maslahat,” katanya.

Hasil sidang isbat menjadi dasar penetapan awal Ramadan oleh pemerintah. Arsad mengingatkan masyarakat agar menyikapi potensi perbedaan dengan sikap saling menghormati.

“Perbedaan itu wajar, dan kita perlu terlatih untuk saling menghormati,” ujarnya.

Berdasarkan perhitungan hisab, ijtimak menjelang Ramadan 1447 Hijriah terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026, pukul 19.01 WIB. Posisi hilal saat matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia masih berada di bawah ufuk.

Data tersebut belum memenuhi kriteria visibilitas hilal MABIMS, yang mensyaratkan tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.

Sementara itu, Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu Legi, 18 Februari 2026. Penetapan ini didasarkan pada hisab hakiki Majelis Tarjih dan Tajdid dengan pedoman Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :