Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) Permanen di Kecamatan Palaran resmi ditunda hingga 31 Juli 2026.
EKSPOSKALTIM, Samarinda – Rencana pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) Permanen, Kecamatan Palaran, yang semula dijadwalkan pada 14 Juli 2026 resmi ditunda. Kementerian Sosial (Kemensos) RI memilih untuk memprioritaskan keselamatan calon siswa ketimbang memaksakan target di tengah proses pembangunan yang belum rampung.
Keputusan ini diambil setelah tim Kemensos mengevaluasi langsung kesiapan sarana dan prasarana di kompleks sekolah yang saat ini masih dalam tahap penyelesaian konstruksi.
PIC SRT Palaran sekaligus Kabag Tata Usaha Sentra Terpadu Pangudi Luhur (STPL) Bekasi Kemensos RI, Jaswadi, mengungkapkan bahwa hasil evaluasi lapangan telah dilaporkan kepada Sekretaris Jenderal Kemensos (Sekjen)
"Setelah dievaluasi dan dilaporkan ke pimpinan, diputuskan bahwa persiapan MPLS untuk tanggal 14 Juli memang belum siap," ujar Jaswadi, Selasa (14/7/2026).
Menurut Jaswadi, aktivitas konstruksi yang masih masif di area sekolah dinilai terlalu berisiko bagi ratusan peserta didik baru. Di lokasi dengan konstruksi yang masih berjalan, banyaknya kendaraan berat yang lalu lalang juga memicu debu pekat.
"Kami lebih mementingkan keselamatan dan kesehatan siswa. Karena itu kami melapor ke pusat agar MPLS diundur di 31 Juli," jelasnya.
Akibat perubahan jadwal ini, sebanyak 270 calon siswa diminta untuk tetap tinggal di rumah. Penundaan ini dinilai tidak akan memicu masalah, sebab sejak awal para siswa sekolah rintisan ini memang diproyeksikan mulai masuk pada akhir Juli.
Langkah ini juga sejalan dengan masukan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda usai meninjau kesiapan lokasi beberapa waktu lalu.
Informasi penundaan ini pun telah diteruskan ke Dinas Sosial Kota Samarinda melalui Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) untuk disosialisasikan kepada para orang tua murid. Meski diundur, Jaswadi optimis seluruh fasilitas utama dapat rampung tepat waktu.
Berdasarkan linimasa pengerjaan, pihak Pekerjaan Umum (PU) saat ini sedang berfokus menyelesaikan area asrama. Pertimbangan terbesar penundaan ini, lanjut Jaswadi, adalah karakteristik siswa yang beragam, mulai dari jenjang SD, SMP, hingga SMA.
“Kalau lingkungan masih banyak material bangunan, apalagi anak-anak SD lincah dan rasa ingin tahunya tinggi. Demi keamanan, lebih baik menunggu sampai benar-benar siap," tegasnya.
Di sisi lain, Kemensos memastikan kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) di sekolah tidak menemui kendala. Para guru dan tenaga kependidikan telah menyatakan kesiapannya untuk menyambut para siswa baru.
Selain itu, proses pengadaan perlengkapan siswa terus dikebut. Logistik sekolah diperkirakan tiba di lokasi sekitar tanggal 20 Juli.
Jaswadi pun meminta dukungan penuh dari para orang tua murid, mengingat Sekolah Rakyat ini menerapkan sistem berasrama (boarding school).
"Kami paham mungkin ada orang tua yang berat melepas anaknya. Namun percayalah, pemerintah berkomitmen memberikan pendidikan terbaik. Semua kebutuhan siswa ditanggung oleh negara, jadi anak-anak bisa fokus belajar," pungkasnya.


