19 Juni 2019
  • PORTAL BERITA ONLINE
  • NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE
  • BERANI BEDA..!!
  • MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Khawatir Bontang Senasib Lhokseumawe, Awang Akan Lapor Presiden


Khawatir Bontang Senasib Lhokseumawe, Awang Akan Lapor Presiden
Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak (kanan) saat memimpin Focus Group Discussion (FGD) di Pendopo Lamin Etam Kompleks Kantor Gubernur Kaltim, Samarinda, Senin (10/9). (EKSPOSKaltim/Muslim)

EKSPOSKALTIM.com, Samarinda - Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak menyatakan, khawatir jika masa depan Kota Bontang bisa senasib seperti dengan Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, jika rencana pembangunan jalur pipa gas Bontang - Takisung, Kalimantan Selatan (Kalsel) terlaksana.

"Tidak ada keuntungan sedikitpun untuk Kaltim. Saat ini kebutuhan gas Kaltim saja belum tercukupi. Makanya saya tegas mengatakan menolak rencana itu,” kata Awang pada Focus Group Discussion (FGD) membahas pipanisasi gas Bontang di Pendopo Lamin Etam Kompleks Kantor Gubernur Kaltim, Samarinda, Senin (10/09/2018). FGD dilakukan bersama dengan para kepala daerah kabupaten/kota se-Kaltim.

Baca juga: DPRD Kaltim Perpanjang Masa Kerja Empat Pansus Raperda

Diketahui, PT Bakrie Indo Infrastructure berencana membangunan jalur pipa gas Bontang – Takisung, Kalsel sepanjang 320 kilometer dan telah mendapat persetujuan oleh Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas). Pipanisasi tersebut dari Takisung, Kalsel nantinya akan didistribusikan ke Semarang, Jawa Tengah, untuk menambah kebutuhan gas dalam rangka kebutuhan jaringan listrik Jawa - Bali.

Awang menjelaskan, dahulu Lhokseumawe sama seperti Bontang, terdapat sumber gas, yang dieksploitasi untuk kepentingan nasional, dengan masuknya PT LNG. Namun, ketika sumber gas tersebut sudah habis, kota Lhokseumawe menjadi “kota mati”. Argumentasi tersebut, kata Awang, yang menjadi dasar Pemprov Kaltim menolak rencana tersebut.

“Kalau mau nolak kan alasannya harus jelas, nah hasilnya akan dirangkum dalam surat pernyataan yang akan saya sampaikan langsung kepada Pak Presiden," imbuhnya.

“Tidak ada untungnya (rencana tersebut) bagi Kaltim. Kaltim dalam jangka panjang juga perlu gas dalam jumlah besar untuk PLTGU, untuk keperluan di KIPI Maloy, KEK Kariangau, KEK Buluminung, dan lain sebagainya. Sikap saya atas rencana pipanisasi gas adalah menolak,” tegasnya.

Sementara itu, Walikota Bontang, Neni Moernaeni yang hadir dalam FGD tersebut, menyatakan bahwa gas adalah “nyawanya” Kota Bontang. Tanpa gas Bontang, dipastikan kota yang dijuluki “Kota Taman” itu akan menjadi kota “mati” seperti Lhokseumawe yang kehilangan pasokan gas.

Berita terkait: Gubernur Tolak Proyek Jalur Pipa Gas Kaltim-Kalsel

“Saya menolak gas dari Bontang dialirkan ke Semarang dengan pipa. Saya menolak sampai diperoleh kepastian bahwa kebutuhan gas untuk industri terpenuhi untuk jangka waktu panjang, baik itu untuk PT Pupuk Kaltim maupun industri lainnya,” ujar Neni.

Menurutnya, Kota Bontang sudah didesign menjadi kota industri, dengan memaksimalkan sumber daya alam (SDA) gas bumi. Oleh karena itu, Kota Bontang dalam jangka panjang memerlukan gas dalam jumlah besar. Untuk kebutuhan, mulai dari pembangunan kilang minyak, maupun hilirisasi dari industri perkebunan, atau hilirisasi dari CPO (crude oil palm).

Ia menyatakan, produksi gas di Kaltim saat ini kondisinya semakin berkurang, sedangkan kebutuhan akan meningkat. Dari segala pertimbangan tersebut maka perlu perhitungan secara matang. Oleh karena itu, ia mendorong agar rencana pipanisasi gas dari Bontang-Semarang untuk dirundingkan lagi antara pemerintah pusat dengan daerah.

“Sampai sekarang kita tidak tahu persis berapa volume gas yang mau dialirkan dari Bontang ke Semarang. Jangan sampai karena keinginan memenuhi kebutuhan gas di Jawa, Bontang menjadi kota “mati” seperti Lhokseumawe,” terangnya. (*)

Video Pemkot Bontang Apresiasi Pemusnahan Barang Bukti Pidum

ekspos tv

Reporter : Muslim Hidayat    Editor : Abdullah

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%100%0%0%


Comments

comments


Komentar: 0