EKSPOSKALTIM.COM, Bontang – Menghentikan kekerasan terhadap kaum pedusi atau perempuan di Bontang seperti menjadi hal yang sukar diwujudkan.
Hampir setiap tahun selalu ada laporan mengenai perempuan yang menjadi korban kekerasan yang masuk ke Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Pemberdayaan Masyarakat (Dissos-P3M) Bontang.
Pada 2015 misalnya. Dissos-P3M Bontang mencatat ada 5 kaum hawa yang mengaku telah dizalimi oleh kaum pria.
Namun, Kasi Sistem Data Gender dan Anak Dissos-P3M Bontang, Rachmat mengaku, dua tahun silam sistem untuk menerima aduan tindak kekerasan belum berjalan dengan baik. Itu artinya, diduga kuat, masih ada tindak kekerasan terhadap perempuan yang belum tercatat.
Baca Juga: Baru Tiga Korban IM yang Melapor, Jumlah Kekerasan Anak Meningkat
“Pada 2015 aplikasi pengaduan kekerasan baru beroperasi, jadi hasilnya belum berjalan dengan maksimal,” katanya kepada media ini, beberapa waktu lalu. Diketahui, aplikasi pengaduan kekerasan yang dimaksud, yaitu, Simfoni PPA (Sistem informasi online perlindungan perempuan dan anak.
Pada 2016 jumlah laporan kekerasan melonjak tajam, yakni ada 29 orang. Sedangkan pada 2017 ini, berdasarkan laporan yang masuk ke Dissos-P3M Bontang hingga Selasa (12/12/2017), hanya berkurang 6 orang, atau ada 23 perempuan yang menjadi korban kekerasan.
Meski begitu, Rachmat mengingatkan, jumlah tersebut masih bisa bertambah. Sebab, 2017 belum berakhir. “Kan 2017 masih menyisakan beberapa hari lagi, jadi angka tersebut belum fix,” imbuhnya.
Kasus yang kerap menimpa kaum hawa pun beragam. Mulai dari fisik, psikis, seksual, trafficing, hingga penelantaran. Tapi, dalam catatan Dissos-P3M Bontang, terlihat, kasus yang paling sering terjadi yaitu kasus psikis.
Baca Juga: Pantau Pembangunan RT, Kasi KPM Dinsos Bontang: Dukung Program Pemerintah
Selama dua tahun, dari 2016 hingga 2017, total ada 57 kasus psikis yang masuk dalam catatan Dissos-P3M Bontang. Sedangkan kasus fisik ada 51, dan seksual ada 42. Sisanya, trafficing dan penelantaran, rata-rata di bawah 7.
Tempat kejadian perkaranya pun bermacam-macam. Mulai dari lingkungan rumah tangga, lingkungan umum, bahkan di lingkungan tempat kerja.
“Jumlah kekerasan ini adalah yang melaporkan. Kalau tidak melapor tidak tercatat. Jadi, kemungkinan jumlahnya bisa banyak,” pungkasnya. (adv)

