Setelah insiden dengan mahasiswa GMNI Samarinda, ajudan pribadi Gubernur Kaltim Rudy Masud berlatar Polri ini menyampaikan permohonan maaf.
EKSPOSKALTIM, Samarinda – Ajudan Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Rudy Mas’ud, Asky Rizal Toding, menyampaikan permohonan maaf atas insiden dengan mahasiswa Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Samarinda di lingkungan Kantor Gubernur Kaltim, Senin (19/10) petang.
Permohonan maaf itu disampaikan melalui sebuah video klarifikasi yang beredar. Dalam rekaman tersebut, Asky secara terbuka mengakui sikapnya sebagai tindakan arogan dan menyebut perbuatannya telah menimbulkan ketidaknyamanan bagi mahasiswa maupun masyarakat.
Ia juga menegaskan tindakan yang terjadi sekitar pukul 18.00 Wita di halaman Masjid Nurul Mukminin, kompleks Pemprov Kaltim, itu dilakukan secara spontan dan tanpa instruksi dari siapa pun.
“Saya menyadari bahwa tindakan saya tersebut adalah sebuah kesalahan dan telah menimbulkan ketidaknyamanan serta tidak ada pembenaran atas perbuatan saya,” ujar Asky dalam video klarifikasinya.
Asky kemudian kembali menyampaikan permohonan maaf atas tindakannya yang dinilai berlebihan. Ia berjanji tidak akan mengulangi perbuatan serupa.
“Sekali lagi saya memohon maaf sebesar-besarnya atas semua tindakan saya yang terlalu berlebihan dan berjanji tidak akan mengulangi kembali,” katanya.
Sebelumnya, sejumlah mahasiswa menyampaikan keberatan atas tindakan yang mereka alami ketika berada di lingkungan kantor gubernur seusai menggelar aksi terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kaltim.
Salah seorang kader GMNI, Rossa Tri Rahmawati, sebelumnya menuturkan bahwa massa telah menyelesaikan aksi sekitar pukul 18.00 Wita. Mereka berada di sekitar masjid sambil menunggu azan Magrib selesai sebelum bersiap pulang.
Lihat postingan ini di Instagram
Menurut Rossa, situasi berubah ketika Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud datang untuk beribadah. Ia mengaku merekam kedatangan gubernur dan menanyakan alasan gubernur tidak menemui mahasiswa saat aksi berlangsung.
Rossa menyebut, setelah gubernur melewatinya, seorang ajudan menangani atau berupaya menangani telepon genggam miliknya, padahal ia merasa tidak menyentuh ataupun mengarahkan ponsel tersebut kepada ajudan.
Kader GMNI lainnya, Ridwan, juga mengungkapkan bahwa situasi kemudian memanas setelah mahasiswa lain bereaksi. Ia mengaku seorang ajudan mendatanginya dari jarak tertentu dan tiba-tiba melakukan kontak fisik hingga memicu ketegangan.
Dalam video permintaan maafnya, Asky tidak merinci bagian-bagian kejadian yang dipersoalkan mahasiswa, tetapi mengakui tindakannya keliru, berlebihan, dan tidak dapat dibenarkan.
Sebelumnya, Kepala Diskominfo Kaltim Ririn Saridewi juga menyampaikan permohonan maaf atas insiden tersebut. Ia menyebut kejadian itu menjadi bahan evaluasi bagi Pemprov Kaltim agar hubungan dengan masyarakat dan mahasiswa ke depan berjalan lebih baik.
Saat ditanya mengenai status Asky, Ririn menyatakan yang bersangkutan merupakan personel kepolisian yang diperbantukan. Namun, ketika ditanya soal kemungkinan teguran atau tindak lanjut khusus terhadap ajudan tersebut, Ririn tidak menjelaskan mekanisme penanganan secara terperinci.
“Mekanismenya ada di Polri,” singkat Ririn.




