PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Akses Darat ke Tiong Ohang Kembali Terbuka, 3 Kampung Hulu Mahulu Masih Terisolasi

Home Berita Akses Darat Ke Tiong Ohan ...

Mobil 4WD membawa 2-3 ton logistik dari Ujoh Bilang ke Tiong Ohang dengan konsumsi sekitar 30 liter BBM. Jalur darat ini kini kembali fungsional, tetapi tiga kampung di hulu masih harus mengandalkan perahu ces.


Akses Darat ke Tiong Ohang Kembali Terbuka, 3 Kampung Hulu Mahulu Masih Terisolasi
Alat berat milik Dinas PUPR-PKP Mahakam Ulu saat melakukan perbaikan dan pembukaan jalan tanah merah di ruas Simpang Long Pakaq menuju Tiong Ohang, Mahakam Ulu. Foto: Dinas PUPR-PKP Mahakam Ulu

EKSPOSKALTIM, Balikpapan - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mahakam Ulu (Mahulu) membuka dan memfungsionalkan kembali akses jalan darat yang menghubungkan Kecamatan Long Pahangai hingga Tiong Ohang, di Kecamatan Long Apari.

Pemerintah menargetkan terbukanya akses jalan darat sepanjang 202 kilometer dari Ujoh Bilang menuju Tiong Ohang tersebut mampu menekan biaya distribusi logistik serta menstabilkan harga bahan pokok di wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia tersebut.

Kepala Dinas PUPR-PKP Mahakam Ulu, Didik Subagya, menjelaskan bahwa penanganan darurat ini berawal dari arahan Bupati Mahulu menyusul penetapan SK Status Tanggap Darurat Kemarau pada pertengahan Agustus 2026.

"Sejak pertengahan September 2026, dropping sembako ke Tiong Ohang di Kecamatan Long Apari sudah relatif lancar karena akses darat sudah fungsional," ungkap Didik dihubungi dari Balikpapan, Sabtu (3/10/2026).

Jalur Darat Lebih Hemat

Menurut Didik, transportasi jalur darat jauh lebih hemat secara ekonomis dibandingkan dengan jalur sungai yang mengandalkan kapal atau speed boat berbiaya tinggi.

Sebagai gambaran, Didik bilang perjalanan dari Ujoh Bilang, pusat pemerintaha Mahulu ke Tiong Ohang dengan jarak sekitar 202 kilometer, mobil 4WD hanya menghabiskan sekitar 30 liter BBM untuk membawa muatan logistik hingga 2 sampai 3 ton.

"Sementara kalau lewat sungai, ongkos penumpang saja bisa Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta per orang, belum termasuk biaya muatan barang," terangnya.

Pengguna Jalan Diminta Tetap Waspada

Meski demikian, Didik mengimbau para pengguna jalan untuk tetap waspada mengingat jalur tanah merah sepanjang 24,4 kilometer di titik Simpang Long Pakaq menuju Tiong Ohang masih berstatus jalan tanah fungsional.

"Jalan ini idealnya bisa dilintasi kendaraan penggerak empat roda (4WD/double gardan) saat cuaca kering. Jika hujan turun, kami tidak merekomendasikan untuk melintas karena kontur tanah merah sangat licin dan rawan longsor," kata Didik.

Kendati berhasil memfungsionalkan jalur darat menuju ibu kota Kecamatan Long Apari di Tiong Ohang, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mahakam Ulu (Mahulu) memastikan alat berat tetap disiagakan (standby) di lokasi hingga November 2026.

Penyiapan alat berat tersebut dilakukan guna mengawal pelaksanaan SK Tanggap Darurat Kemarau sekaligus mengantisipasi potensi longsor susulan yang rentan menutup badan jalan saat hujan turun secara sporadis.

Didik menyebut perbaikan ruas jalan sepanjang 24,4 kilometer dari Simpang Long Pakaq ke Tiong Ohang masih memerlukan pemeliharaan rutin.

"Hal ini penting karena jika ada hujan sporadis, pasti ada titik-titik jalan tanah merah yang perlu diperbaiki dan dibersihkan kembali dari longsoran," ujar Didik.

Didik menambahkan pihaknya telah berkoordinasi dengan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Kaltim agar ada dukungan anggaran peningkatan kualitas jalan perbatasan, minimal berupa perkerasan pasir batu (sirtu).

Tiga Kampung Hulu Belum Tertembus Jalur Darat

Di sisi lain, Didik mengungkapkan bahwa terbukanya jalur darat saat ini baru mampu menjangkau 7 dari total 10 kampung yang ada di Kecamatan Long Apari.

Terdapat 3 kampung yang berada di wilayah hulu, yakni Kampung Long Apari, Noha Tifab, dan Noha Silat, yang hingga kini belum bisa dijangkau melalui jalur darat karena belum memiliki perintisan badan jalan.

"Dari 10 kampung di Kecamatan Long Apari, yang berhasil kami tembus ke pusat kecamatan di Tiong Ohang baru mencakup 7 kampung. Sementara 3 kampung di bagian atas belum ada badan jalannya sama sekali," jelas Didik.

Untuk memenuhi kebutuhan logistik dan sembako, warga di tiga kampung terisolasi tersebut sejauh ini masih bergantung penuh pada transportasi sungai menggunakan perahu mesin (perahu ces).

"Warga di tiga kampung tersebut masih murni mengandalkan jalur sungai menggunakan ces," kata dia


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :