Antrean panjang Pertalite di Bontang ternyata tak semata dipicu tingginya permintaan. Pemkot mengungkap salah satu SPBU sempat kehilangan pasokan selama sepekan.
EKSPOSKALTIM, Bontang – Pemerintah Kota Bontang meminta seluruh operator SPBU memperketat pengawasan saat melayani pembelian Pertalite bersubsidi.
Setiap QR barcode yang digunakan konsumen wajib dicocokkan dengan nomor polisi kendaraan guna mencegah pelanggaran yang berujung sanksi penghentian pasokan.
Peringatan tersebut disampaikan setelah SPBU Tanjung Laut sempat tidak menerima pasokan Pertalite selama sekitar satu pekan akibat temuan ketidaksesuaian data kendaraan dengan QR barcode yang digunakan saat transaksi.
Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (PSDA) Kota Bontang, Moch Arif Rochman, mengatakan sanksi tersebut berdampak langsung terhadap distribusi BBM bersubsidi di kota itu.
Menurutnya, penghentian pasokan membuat masyarakat yang biasa mengisi BBM di SPBU Tanjung Laut terpaksa beralih ke SPBU lain sehingga antrean menjadi lebih panjang.
“Jadi yang biasa isi di sekitar SPBU Tanjung Laut beralih ke Lang-Lang atau Akawi, yang menyebabkan antrean di sana makin menumpuk,” kata Arif, Minggu (30/8).
Ia menjelaskan Bontang memiliki lima SPBU penerima kuota Pertalite dengan alokasi yang berbeda-beda. Untuk SPBU Tanjung Laut sendiri, pasokan diberikan secara bergantian sebanyak 8 kiloliter dan 16 kiloliter per hari.
Karena itu, setiap gangguan distribusi di satu SPBU akan langsung memengaruhi pola konsumsi masyarakat di lokasi lain.
Arif menegaskan operator SPBU memiliki tanggung jawab memastikan data kendaraan yang dilayani benar-benar sesuai dengan QR barcode yang digunakan.
Menurutnya, praktik penggunaan QR yang tidak sesuai dengan identitas kendaraan dapat mengganggu sistem pengawasan distribusi BBM subsidi dan berpotensi memicu sanksi serupa di kemudian hari.
“Kami minta kemarin untuk disudahi sanksinya, jadi stok Pertalite di SPBU Tanjung Laut sudah ada,” ujarnya.
Meski pasokan telah kembali dibuka, kondisi di lapangan belum sepenuhnya normal.
Salah seorang pengendara sepeda motor, Ashadi, mengaku telah mengantre sejak pagi di SPBU Tanjung Laut meski Pertalite belum tersedia saat dirinya tiba.
Ia memilih tetap menunggu karena mendapat informasi bahwa kendaraan pengangkut BBM sedang dalam perjalanan menuju lokasi.
“Saya dari pagi sudah di sini. Katanya sudah di perjalanan, enggak tahu masih lama atau tidak. Saya tunggu saja daripada tidak dapat,” katanya.
Pantauan di lapangan menunjukkan antrean kendaraan roda dua maupun roda empat masih memenuhi area SPBU Tanjung Laut. Kondisi tersebut terjadi karena stok Pertalite belum tersedia saat itu dan mobil tangki pengangkut BBM belum tiba di lokasi.
Pemkot berharap kejadian serupa tidak terulang agar distribusi Pertalite tetap lancar dan tidak memicu antrean panjang di SPBU lain akibat pergeseran konsumen.



