Asap belum menutup langit Samarinda, tetapi dampaknya mulai terasa di fasilitas kesehatan. Ratusan kasus ISPA tercatat setiap hari selama Agustus dengan tren yang terus meningkat.
EKSPOSKALTIM, Samarinda – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap mulai mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kota Samarinda.
Pasalnya, hingga 22 Agustus 2026, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) tercatat meningkat 22,8 persen dibandingkan Juli.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda, Ismed Kusasih, mengatakan belum terdapat peningkatan signifikan pada sebagian besar penyakit. Namun, ISPA menjadi pengecualian di tengah kondisi cuaca yang semakin panas dan kering.
“Masih terkendali dan belum ada peningkatan yang signifikan, kecuali ISPA. Di Agustus 1-22 Agustus kenaikan 22,8%,” ujar Ismed kepada EksposKaltim, Kamis (27/8).
Berdasarkan data kesehatan hingga 22 Agustus, peningkatan tersebut membuat ISPA menjadi persoalan kesehatan yang paling mendapat perhatian. Kasusnya mencapai rata-rata 206,2 kasus per hari.
Kenaikan itu berlangsung ketika Kalimantan Timur tengah menghadapi periode kemarau dan karhutla di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan paparan debu dan asap, meski Dinkes belum menyimpulkan bahwa kenaikan ISPA tersebut secara langsung disebabkan oleh kabut asap.
Ismed mengatakan dari pemantauan kualitas udara, kondisi Samarinda saat ini masih berada pada kategori waspada.
“Kalau dari kualitas udara masih masuk kategori waspada,” katanya.
Dinkes Belum Bicara Skenario Terburuk
Dinkes Samarinda telah masuk dalam satuan tugas yang menangani dampak kekeringan dan kemarau panjang. Dalam koordinasi lintas sektor, BPBD menjadi pihak yang memiliki domain utama penanganan bencana, sementara Dinkes mempersiapkan langkah dari sisi kesehatan.
Koordinasi tersebut menjadi penting karena kondisi karhutla dapat berubah cepat. Namun, Ismed menegaskan hingga saat ini belum ada skenario terburuk yang ditetapkan karena kondisi kesehatan masih terkendali.
“Makanya kemarin rapat terpadu, domainnya kan ada di BPBD. Mereka itu menyampaikan, kita harus menyiapkan. Tapi sampai sekarang nggak ada skenario terburuk,” katanya.
Meski demikian, Dinkes tetap menyiapkan langkah apabila kualitas udara memburuk atau jumlah penderita ISPA meningkat.
“Kalau terjadi misalnya peningkatan, misalnya kualitas udara tambah buruk atau segala macam, kalau dari sisi kesehatan kan pasti kita menyiapkan logistik, terutama ketersediaan obat-obatan,” jelasnya.
Kebutuhan obat ISPA menjadi perhatian utama karena peningkatan kasus akan berdampak langsung terhadap kebutuhan pelayanan kesehatan.
“Yang penting itu kecukupan obat-obatan, terutama obat ISPA,” ujarnya.
Untuk sementara, stok logistik kesehatan disebut masih mencukupi. Namun, kenaikan kasus yang telah mencapai 22,8 persen membuat Dinkes harus menghitung kembali kebutuhan apabila tren peningkatan berlanjut.
“Untuk sementara ini kan kita stok logistik kan cukup. Jadi bukan berpikir skenario terburuk. Sekarang terjadi peningkatan 22 persen, berarti stok obat harus ditambah,” sambungnya.
Lebih lanjut, Ismed memberikan catatan bahwa ISPA tidak hanya muncul ketika terjadi kemarau, El Niño, maupun kabut asap. Penyakit tersebut secara rutin masuk dalam daftar 10 besar penyakit di Samarinda.
Meski demikian kenaikan 22,8 persen tidak dianggap sebagai angka yang bisa diabaikan. Dinkes mulai menempatkan kecukupan obat sebagai salah satu langkah antisipasi apabila kondisi udara memburuk dan kasus ISPA terus bertambah.
Selain menyiapkan logistik, Dinkes memperkuat imbauan kepada masyarakat untuk menjaga kesehatan dan mengurangi risiko paparan lingkungan yang panas, kering, berdebu maupun berasap.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat diminta menerapkan pola hidup bersih, rutin mencuci tangan, menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan atau ketika sakit, menjaga kebersihan serta ventilasi udara, dan membatasi aktivitas luar ruangan pada pukul 10.00–16.00.
Masyarakat juga diminta mencukupi konsumsi air putih serta menyiapkan perlengkapan kesehatan dasar di rumah, seperti masker, hand sanitizer, disinfektan, dan termometer.
Selain ISPA, cuaca panas ekstrem juga berpotensi memicu sengatan panas atau heat stroke yang dapat ditandai pusing, lemas hingga berpotensi menyebabkan pingsan.
Apabila mengalami gejala berat seperti demam tinggi lebih dari tiga hari, sesak napas, atau batuk berdarah, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan pemerintah Kota Samarinda, termasuk 26 Puskesmas, RS IA Moeis, dan Labkesmas Kota Samarinda.
Ismed menegaskan Dinkes tetap menyiapkan skenario dari sisi kesehatan, terutama apabila peningkatan kasus terus terjadi.
“Pasti kita memikirkan skenarionya, yang penting kita sampaikan kepada Pak Walikotq dan tim,” pungkasnya.



