PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Kemarau Kaltim Makin Kering, Kekeringan Bisa Mirip 2023 dan 1997

Home Berita Kemarau Kaltim Makin Keri ...

Kalimantan Timur kembali memasuki periode kering dengan curah hujan sangat rendah. BMKG Samarinda memperkirakan kondisi ini masih bertahan hingga September atau Oktober, dengan karakter kemarau yang berpotensi menyerupai periode kering pada 2023 dan 1997.


Kemarau Kaltim Makin Kering, Kekeringan Bisa Mirip 2023 dan 1997
Sungai mulai surut di tengah teriknya matahari, menggambarkan kondisi kering yang melanda Samarinda. BMKG memprakirakan kemarau tahun ini berpotensi menyerupai kondisi 2023 dan 1997, dengan suhu maksimum mencapai 35 derajat Celsius. Ekspos/Sintya

EKSPOSKALTIM, Samarinda – Kalimantan Timur (Kaltim) kembali menghadapi periode kemarau dengan curah hujan yang sangat rendah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Samarinda memprediksi kondisi kering masih berlanjut hingga September atau Oktober, dengan karakter musim kemarau tahun ini berpotensi menyerupai kondisi yang terjadi pada 2023 dan 1997.

Forecaster BMKG Samarinda, Fiona Alya Hanifah, mengatakan prakiraan curah hujan pada dasarian kedua dan ketiga Agustus masih berada dalam kategori sangat rendah. Kondisi tersebut menunjukkan minimnya peluang hujan dengan intensitas berarti dalam periode tersebut.

“Prakiraan cuaca untuk bulan ini dasarian 2 dan 3 masih dalam kategori sangat rendah, yaitu curah hujannya di bawah 30 mm dalam 1 bulan dasarian atau 10 hari. Untuk prakiraan cuaca bulanannya Agustus juga curah hujannya rendah,” kata Fiona, Selasa (18/8).

Meski demikian, kondisi tersebut bukan berarti hujan sama sekali tidak mungkin terjadi. Hujan tetap berpeluang turun, namun intensitasnya diperkirakan ringan.

Kondisi ini menjadi perhatian di tengah meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kaltim. Minimnya hujan membuat proses pemulihan kelembapan lahan berjalan lebih lambat, sementara sumber api berpotensi lebih mudah berkembang ketika kondisi lingkungan semakin kering.

BMKG Samarinda memperkirakan musim kemarau di Samarinda dan sekitarnya berlangsung sekitar tiga bulan. Perhitungan tersebut mengacu pada awal periode kemarau yang dimulai sejak dasarian akhir Juni.

“Kemarau kemungkinan berlangsung sampai dalam 9 dasarian atau sekitar 3 bulan, berarti bulan September atau Oktober itu berakhir musim kemarau,” jelas Fiona.

Ketika ditanya apakah musim kemarau tahun ini merupakan salah satu yang paling kering, Fiona mengatakan BMKG masih melakukan pemantauan. Namun, terdapat prediksi bahwa karakter kemarau kali ini akan menyerupai periode kemarau pada 2023 dan 1997.

Perbandingan tersebut menjadi penting karena kondisi kering berkepanjangan dapat meningkatkan kerentanan wilayah terhadap kebakaran lahan, terutama apabila curah hujan tidak cukup untuk membasahi kembali permukaan tanah dan vegetasi. 

Selain curah hujan yang rendah, suhu juga menjadi indikator lain yang perlu diperhatikan selama periode kemarau. Fiona menyebut suhu maksimum di Samarinda pada bulan sebelumnya masih berada di kisaran 34,1 derajat Celsius.

Namun pada Agustus ini, suhu maksimum diperkirakan dapat menyentuh 35 derajat Celsius. Bahkan, pengukuran yang dilakukan BMKG telah menunjukkan angka tersebut.

“Bulan ini mungkin akan menyentuh 35, karena kemarin saya mengukur sendiri, membaca sendiri itu sudah 35-an,” ungkapnya.

Fiona menjelaskan, peningkatan suhu maksimum tidak semata-mata ditentukan oleh lamanya musim kemarau. Kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh tutupan awan serta tingkat kelembapan udara.

Di tengah maraknya kejadian kebakaran, kondisi kualitas udara juga menjadi perhatian. Namun, Fiona menjelaskan data kualitas udara yang dimiliki BMKG Samarinda bersifat sangat lokal karena pengukuran dilakukan di satu titik yakni di Bandara APT Pranoto.

Menurutnya, hingga Selasa (18/8), kualitas udara di wilayah sekitar titik pemantauan tersebut masih berada dalam kategori aman. Namun, kondisi di lokasi lain yang lebih dekat dengan kawasan rawan kebakaran dapat berbeda.

Di tengah ancaman kekeringan dan karhutla, upaya modifikasi cuaca atau hujan buatan juga menjadi salah satu opsi yang dibahas pemerintah. Fiona menjelaskan, proses tersebut tetap sangat bergantung pada kondisi atmosfer yang memungkinkan terjadinya hujan.

Secara umum, BMKG bertugas melakukan pemantauan kondisi cuaca untuk melihat potensi atmosfer yang dapat mendukung pelaksanaan operasi modifikasi cuaca.

Namun, penyemaian awan tidak otomatis menjamin hujan akan turun. Keberhasilan operasi tersebut tetap ditentukan oleh kondisi atmosfer, terutama kecepatan angin dan kelembapan udara.

“Dan tingkat keberhasilannya itu tergantung kecepatan angin dan kelembapan udara,” pungkasnya.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :