Meluasnya kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat mulai mengancam sektor transportasi udara.
EKSPOSKALTIM, Balikpapan – Otoritas Bandar Udara (Otban) Wilayah VII Balikpapan memastikan operasional penerbangan di wilayah kerjanya masih berjalan normal, meski kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masif di sejumlah wilayah di Kalimantan.
Kepala Otban Wilayah VII Balikpapan, Ferdinan Nurdin, mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan karhutla, terutama di Kalteng. Asap yang ditimbulkan kebakaran berpotensi mengganggu keselamatan dan operasional penerbangan.
"Kami di Otban Wilayah VII memang memperhatikan terkait perkembangan adanya kebakaran hutan dan lahan, khususnya di Kalteng yang cukup masif. Asapnya memang dikhawatirkan akan berdampak terhadap penerbangan," ujar Ferdinan.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada bandara di wilayah kerja Otban VII yang dilaporkan terdampak asap karhutla.
Wilayah kerja Otban VII meliputi Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.
"Tapi sampai saat ini di wilker kami, Kalteng, Kaltim, dan Kaltara, belum ada bandara yang terdampak asap dari kebakaran hutan dan lahan," tegasnya.
Otban Siapkan Langkah Antisipasi
Sebagai langkah pencegahan, Otban VII telah menerbitkan surat edaran kepada seluruh pengelola bandara di wilayah kerjanya. Pengelola bandara diminta menyiapkan langkah antisipasi apabila karhutla berpotensi mengganggu operasional penerbangan.
Selain pengelola bandara, penyelenggara navigasi penerbangan juga telah menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi dampak asap karhutla.
Maskapai penerbangan turut diminta menyiapkan langkah operasional apabila kondisi asap mulai memengaruhi penerbangan.
"Terakhir, kepada maskapai untuk mengambil langkah jika ada asap akibat karhutla karena efeknya kepada operasional penerbangan dan masyarakat," ujarnya.
Ferdinan memastikan hingga saat ini belum ada laporan penundaan penerbangan yang disebabkan oleh asap karhutla.
"Sejauh ini sampai saat ini tidak ada laporan adanya delay akibat terdampak asap karhutla. Penerbangan secara umum masih berjalan normal," katanya.
Sampit dan Palangkaraya Jadi Perhatian
Meski belum berdampak langsung terhadap operasional penerbangan, Bandara H. Asan Sampit di Kabupaten Kotawaringin Timur dan Bandara Tjilik Riwut di Palangkaraya menjadi perhatian Otban VII karena perkembangan karhutla di wilayah tersebut.
"Bandara di Kalteng, seperti Sampit dan Palangkaraya, memang jadi perhatian kalau melihat situasi yang saat ini berkembang," ujar Ferdinan.
Menurutnya, kondisi asap dapat memengaruhi keselamatan penerbangan, terutama penerbangan yang mengandalkan jarak pandang secara langsung. Sementara itu, penerbangan instrumen dapat mengandalkan sistem dan peralatan navigasi penerbangan.
General Manager Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan, R. Iwan Winaya Mahdar, mengatakan pihaknya juga terus berkoordinasi dengan pengelola bandara di Palangkaraya dan Pontianak dalam memantau perkembangan karhutla.
Menurut Iwan, operasional penerbangan di Bandara SAMS Sepinggan hingga saat ini tidak terdampak asap karhutla.
"Di kami, penerbangan langsung dari Pontianak pukul 13.30 terjadwal Batik Air, saat ini masih lancar," jelas Iwan.
Ia mengatakan, kondisi jarak pandang di Pontianak memang sempat terbatas pada pagi hari. Namun, penerbangan dari Balikpapan menuju Pontianak maupun sebaliknya masih berjalan lancar.
"Kami berharap peristiwa karhutla tidak berpengaruh terhadap operasional penerbangan di seluruh Indonesia," ujarnya.
Terkait keterlambatan penerbangan, Iwan menjelaskan bahwa delay dapat disebabkan berbagai faktor, termasuk faktor teknis dan operasional yang bergantung pada maskapai, seperti rotasi pesawat.
Untuk saat ini, tingkat ketepatan waktu penerbangan atau On Time Performance (OTP) di Bandara SAMS Sepinggan masih tergolong baik dengan tingkat keterlambatan yang rendah.



