PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Karhutla Kalsel Tembus 794 Hektare, Banjarbaru Jadi Episentrum Kebakaran

Home Berita Karhutla Kalsel Tembus 79 ...

Banjarbaru menjadi titik terpanas karhutla di Kalimantan Selatan tahun ini. Hingga akhir Juli, hampir 800 hektare lahan terbakar di provinsi tersebut, dengan lebih dari sepertiganya berada di wilayah ibu kota provinsi. 


Karhutla Kalsel Tembus 794 Hektare, Banjarbaru Jadi Episentrum Kebakaran
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD )Palangka Raya catat 90 kejadian Karhutla selama status siaga darurat. Foto: Mc.Palangka Raya

EKSPOSKALTIM, Banjarbaru — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan terus meluas selama musim kemarau 2026. Hingga 27 Juli 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel mencatat 299 kejadian karhutla dengan total luas area terbakar mencapai 794,1 hektare.

Dari seluruh wilayah yang terdampak, Kota Banjarbaru menjadi episentrum karhutla dengan jumlah kejadian dan luas lahan terbakar tertinggi.

Kepala Pelaksana BPBD Kalimantan Selatan Ronny Eka Saputra mengatakan Banjarbaru mencatat 128 kejadian karhutla atau hampir setengah dari total kejadian di provinsi tersebut.

Selain itu, luas lahan terbakar di Banjarbaru mencapai sekitar 326 hektare, menjadikannya wilayah dengan dampak kebakaran terbesar sepanjang periode siaga darurat saat ini.

“Luas area terbakar terbesar tercatat di Kota Banjarbaru mencapai sekitar 326 hektare, sehingga wilayah tersebut menjadi salah satu lokasi yang mendapat perhatian dalam penguatan pencegahan dan pengendalian karhutla selama periode siaga darurat,” ujar Ronny di Banjarbaru, Selasa (29/7).

Setelah Banjarbaru, daerah dengan jumlah kejadian terbanyak adalah Kabupaten Tanah Laut sebanyak 42 kejadian dan Kabupaten Banjar sebanyak 39 kejadian.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan telah menetapkan status siaga darurat karhutla sejak 6 Juli hingga 31 Oktober 2026. Untuk memperkuat respons di lapangan, Komando Penanganan Darurat Bencana mulai beroperasi sejak 7 Juli 2026 dengan melibatkan berbagai instansi terkait.

Meski demikian, upaya pemadaman menghadapi sejumlah kendala. Salah satu tantangan terbesar adalah sulitnya akses menuju titik kebakaran, terutama di kawasan gambut yang tidak dapat dijangkau kendaraan pemadam.

“Kendala utama satgas darat adalah sulitnya akses menuju lokasi kebakaran, terutama kawasan gambut yang tidak dapat dilalui kendaraan, sehingga kami harus menyambung selang hingga beberapa gulung dan tekanan air di ujung selang menjadi berkurang,” kata Ronny.

Untuk membantu pemadaman, BPBD bersama instansi terkait mengoptimalkan operasi udara. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) telah dilaksanakan pada 15-21 Juli 2026 guna meningkatkan peluang hujan di wilayah rawan karhutla. Sementara itu, helikopter water bombing masih terus dikerahkan untuk menjangkau titik api yang sulit dicapai dari jalur darat.

Namun operasi udara hanya dapat dilakukan hingga pukul 18.00 Wita karena mempertimbangkan faktor keselamatan penerbangan.

Pada malam hari, petugas lebih memprioritaskan pencegahan agar api tidak merambat ke kawasan permukiman. Sedangkan titik-titik api yang sulit dijangkau akan kembali ditangani saat operasi udara berlanjut keesokan harinya.

Selain persoalan akses, BPBD juga menghadapi keterbatasan sumber air di sejumlah kawasan konsesi. Di sisi lain, pola sebaran karhutla tahun ini disebut mengalami perubahan dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Jika sebelumnya kebakaran lebih banyak terjadi di wilayah utara, kini titik-titik karhutla mulai bergeser ke wilayah selatan yang didominasi kawasan konsesi.

Menurut Ronny, perubahan pola tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya dipengaruhi kondisi cuaca, tetapi juga karakteristik lahan, ketersediaan sumber air, serta kemudahan akses menuju lokasi kebakaran.

Dengan musim kemarau yang masih berlangsung hingga beberapa bulan ke depan, BPBD Kalsel terus meningkatkan kewaspadaan agar kebakaran tidak meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar terhadap lingkungan maupun masyarakat. (ant)


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :