Di tengah maraknya eksploitasi kawasan karst di berbagai daerah, warga Kampung Dumaring, Kabupaten Berau, menunjukkan jalan berbeda. Batu gamping purba yang diperkirakan terbentuk jutaan tahun lalu kini menjadi sumber ekonomi berkelanjutan melalui perhutanan sosial dan wisata alam.
EKSPOSKALTIM, Berau – Kawasan karst purba di Kampung Dumaring, Kabupaten Berau, membuktikan bahwa pelestarian lingkungan tidak selalu berseberangan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Alih-alih dieksploitasi sebagai komoditas tambang, bentang batu gamping di kawasan tersebut justru dikembangkan sebagai sumber ekonomi berbasis konservasi.
Model pengelolaan tersebut mendapat perhatian saat tim penilai Geopark meninjau Geosite Batu Gamping Dumaring untuk melihat langsung praktik pelestarian kawasan karst yang melibatkan masyarakat lokal.
Koordinator Program Kolaborasi dan Konservasi Hutan dan Sungai Dumaring, Nandang Muliana, menjelaskan batu gamping di kawasan itu memiliki nilai geologi yang tinggi karena diperkirakan terbentuk sejak 11 juta hingga 3 juta tahun lalu.
“Batu gamping di sini bukan sekadar hamparan batu komoditas, melainkan penyangga utama keberlangsungan hutan karst. Struktur ini mendukung penuh rantai kehidupan berbagai flora dan fauna endemik yang ada di dalam kawasan,” kata Nandang.
Menurut dia, keberhasilan Dumaring tidak hanya terletak pada upaya menjaga warisan geologi, tetapi juga pada kemampuan masyarakat mengubah konservasi menjadi sumber penghidupan yang nyata.
Melalui Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS), warga mengembangkan berbagai kegiatan ekonomi berbasis hasil hutan bukan kayu secara berkelanjutan. Salah satunya melalui pembibitan tanaman bernilai ekonomi dan ekologis tinggi seperti ulin, mangrove, dan pohon kapur.
Program tersebut tidak hanya mendukung rehabilitasi lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang signifikan bagi masyarakat. Nandang menyebut nilai ekonomi yang dihasilkan dari kegiatan tersebut telah mencapai sekitar Rp800 juta.
Selain sektor kehutanan, masyarakat juga mengembangkan wisata berbasis alam melalui Taman Gua Dumaring yang menawarkan pengalaman edukasi mengenai sejarah pembentukan gua dan bentang alam karst.
Konsep wisata yang diterapkan menggabungkan unsur pendidikan, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat. Warga dilibatkan sebagai pemandu wisata, pengelola kawasan, hingga penyedia layanan pendukung bagi pengunjung.
“Keberhasilan Geosite Dumaring tidak lepas dari penerapan konsep kerja sama multipihak atau pentahelix,” ujarnya.
Menurut Nandang, pengelolaan kawasan dibangun melalui kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat lokal. Masing-masing pihak memiliki peran berbeda dalam memperkuat konservasi sekaligus membuka peluang ekonomi bagi warga.
Ia menilai kunjungan tim penilai Geopark menjadi pengakuan bahwa konsep geopark tidak semata-mata berfokus pada perlindungan warisan geologi, tetapi juga harus mampu menghadirkan manfaat sosial dan ekonomi secara berkelanjutan.
“Kunjungan tim penilai Geopark ini menjadi bukti nyata bahwa konsep geopark yang ideal tidak hanya fokus memproteksi warisan geologi secara kaku,” katanya.
Bagi masyarakat Dumaring, kawasan karst yang selama jutaan tahun membentuk bentang alam Berau kini bukan hanya menjadi aset konservasi, tetapi juga sumber penghidupan yang memberi nilai tambah tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan. (ant)



