Vegetasi dan lahan di Kalimantan Timur diproyeksikan berada pada kategori mudah hingga sangat mudah terbakar dalam sepekan mendatang.
EKSPOSKALTIM, Balikpapan - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai lonjakan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur (Kaltim).
Dipicu oleh menguatnya fenomena El Nino yang berbarengan dengan masuknya musim timur, puncak dampak El Nino diprediksi BMKG akan menghantam Kaltim pada September hingga November mendatang.
Ketua Tim Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan, Huda Abshor Mukhsinin menjelaskan bahwa hawa panas menyengat yang dirasakan warga saat ini didominasi oleh pengaruh Monsun Australia.
Angin muson ini membawa massa udara yang jauh lebih kering ke wilayah Indonesia, termasuk Kaltim.
"Faktor panas yang paling dominan saat ini karena kita sudah memasuki musim timuran atau Monsun Australia yang membawa sifat udara lebih kering. El Nino juga sedang menuju fase aktifnya, sehingga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan," ujar Huda, Jumat (10/7/2026).
Huda menambahkan situasi yang terjadi saat ini belum berada pada titik ekstrem. Berdasarkan kajian mendalam BMKG, imbas El Nino yang paling signifikan baru akan terasa dalam tiga bulan ke depan.
"Untuk saat ini belum masuk puncak dampak El Nino. Puncaknya diperkirakan terjadi pada September, Oktober, dan November," urainya.
.jpeg)
Kategori Sangat Mudah Terbakar dalam Sepekan
Kendati belum mencapai puncak, BMKG memproyeksikan tingkat kerawanan karhutla di Benua Etam berada pada level mengkhawatirkan. Dalam sepekan ke depan, vegetasi dan lahan di Kaltim secara merata masuk dalam kategori mudah hingga sangat mudah terbakar.
Berdasarkan hasil pantauan satelit, wilayah selatan Kaltim menjadi zona yang paling mendapat perhatian khusus. Titik panas (hotspot) terpantau mulai bermunculan dan terkonsentrasi di kawasan Penajam Paser Utara (PPU) dan Balikpapan.
"Kalau dilihat dari titik hotspot, pengamatan terakhir berada di wilayah selatan seperti PPU dan Balikpapan. Itu yang menjadi perhatian kami saat ini," tegas Huda.
Sementara itu, berdasarkan pemutakhiran data per Kamis (9/7), BMKG mendeteksi total 116 titik panas yang tersebar di wilayah Kaltim. Kutai Timur menjadi daerah dengan sebaran tertinggi yakni 48 titik, disusul Kabupaten Paser dengan 34 titik.
Berikutnya, Kabupaten Kutai Kartanegara mencatatkan 18 titik panas, disusul Kabupaten Berau dengan 6 titik, dan Kota Bontang terpantau memiliki 2 titik panas.
Langkah antisipasi dini dan kesiapsiagaan seluruh pihak sangat diperlukan publik guna mencegah terjadinya kebakaran skala besar.



