Saat warga masih mempertanyakan hujan debu yang menyelimuti permukiman Balikpapan, unggahan peringatan kesehatan dari akun resmi Dinkes justru mendadak menghilang. Belakangan, Dinkes mengungkap alasan penghapusan itu.
EKSPOSKALTIM, Balikpapan — Akun Instagram resmi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Balikpapan menuai sorotan setelah unggahan peringatan kesehatan terkait fenomena hujan debu dihapus tak lama setelah dipublikasikan pada Rabu (24/6/2026).
Penghapusan mendadak itu memicu spekulasi di media sosial tentang kemungkinan adanya intervensi dari pihak luar. Konten yang dihapus memuat pesan peringatan berbunyi: "Peringatan kesehatan, jangan anggap sepele. Debu pagi ini berbahaya. Kamu tidak bisa melihatnya, tapi paru-parumu bisa merasakannya. PM 2.5 partikel berbahaya."
Kepala Dinkes Kota Balikpapan, Alwiati, langsung mengklarifikasi. Ia menegaskan penghapusan konten itu adalah keputusannya sendiri, bukan karena tekanan dari pihak mana pun, melainkan semata karena unggahan tersebut dibuat tanpa mengikuti prosedur rilis resmi.
"Unggahan yang dibuat tim saya itu, saya yang minta untuk take down. Karena konten tersebut di-upload tanpa mengikuti arahan resmi dari saya," jelas Alwiati, Jumat sore (26/6/2026).
Ia menjelaskan instruksi awal yang diberikan kepada jajarannya adalah melakukan investigasi dan pembuktian ilmiah terlebih dahulu sebelum mengeluarkan pernyataan publik yang berpotensi memicu kepanikan.
"Arahan saya yang sebenarnya adalah Dinkes melakukan investigasi dulu apa penyebab sampai debu itu tiba-tiba muncul. Konfirmasi dulu jenis debunya dan apakah sudah dilakukan tes laboratorium, apakah debu tersebut merupakan bahan kimia yang membahayakan atau tidak. Jadi tidak ada tujuan yang aneh-aneh di balik penghapusan konten," tegasnya.
Bukan PM 2.5, Melainkan Zeolit

Jawaban akhirnya diperoleh setelah Dinkes menggelar pertemuan dengan manajemen PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB) pada Kamis (25/6/2026). Berdasarkan hasil uji laboratorium Sucofindo Jakarta terhadap sampel debu, material yang menyelimuti permukiman warga dipastikan bukan partikel beracun PM 2.5 sebagaimana disebutkan dalam unggahan yang dihapus, melainkan senyawa mineral zeolit.
"Kami diperlihatkan hasilnya, debu tersebut merupakan zeolit yang kaya kandungan aluminium silikat dan sejauh ini dinyatakan aman. Karakteristiknya pada dasarnya seperti pasir biasa, hanya saja ukuran partikelnya jauh lebih halus," urai Alwiati.
Pertamina mengakui kebocoran zeolit, yang merupakan bahan katalis kilang, ke udara terjadi akibat gangguan teknis berupa miscommissioning pada salah satu instrumen saat uji coba fungsi peralatan baru. Proses pengujian kini telah dihentikan total untuk perbaikan dan pemasangan sistem filter scrubber tambahan.

Dinkes mengimbau warga yang masih menemukan sisa partikel debu untuk segera mencuci tangan setelah menyentuh debu, membersihkan wajah dan mata dengan air mengalir jika terkena paparan, serta memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami keluhan.
"Pertamina juga menyatakan siap bertanggung jawab apabila ada warga yang membutuhkan penanganan medis. Jika ada keluhan setelah terpapar debu, segera laporkan dan periksakan diri ke puskesmas terdekat," tambah Alwiati.
Sebagai latar, fenomena hujan debu yang menyelimuti sejumlah kawasan Balikpapan pada 23–24 Juni 2026 memicu keluhan warga sekaligus perdebatan mengenai dampaknya terhadap kesehatan dan lingkungan. Sejumlah warga di Sumber Rejo, Kampung Kangkung, hingga Karang Jati melaporkan rumah, kendaraan, serta tempat usaha mereka tertutup partikel debu halus, disertai keluhan tenggorokan gatal, perih, hingga sesak napas.
Di tengah klaim PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB) bahwa material tersebut aman, NUGAL Institute mendesak perusahaan membuka hasil uji laboratorium secara transparan dan meminta adanya pengujian independen. Mereka juga meminta dokumen AMDAL serta kajian risiko peningkatan kapasitas kilang dibuka kepada publik, sembari mengkritik respons pemerintah yang dinilai belum cukup cepat dalam merespons potensi ancaman kesehatan masyarakat.
Sementara itu, hasil investigasi awal Dinas Kesehatan Balikpapan menyebut material debu merupakan zeolit yang kaya kandungan aluminium silikat dan sejauh ini dinyatakan aman. Meski demikian, sampel debu tetap dikirim ke Laboratorium Sucofindo Jakarta untuk pengujian lanjutan dan pemantauan kesehatan warga terdampak masih terus dilakukan.
Kasus ini turut mendapat perhatian pemerintah pusat. Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kementerian ESDM, Rilke Jeffri Huwae, menyatakan akan melakukan koordinasi dan pengecekan lapangan, sementara Menteri Lingkungan Hidup Jumhur memastikan persoalan hujan debu yang dikeluhkan warga Balikpapan akan segera ditindaklanjuti.



