Ratusan tahun setelah pertama kali diwariskan, tradisi Nutuk Beham masih menjadi ruang perjumpaan warga Desa Kedang Ipil. Dari menyangrai padi hingga menumbuk ketan bersama, ritual ini bukan sekadar mengolah pangan.
EKSPOSKALTIM, Tenggarong - Di tengah perubahan zaman, warga Desa Kedang Ipil, Kutai Kartanegara, masih mempertahankan Nutuk Beham, tradisi mengolah padi ketan yang diwariskan turun-temurun oleh leluhur Kutai Lawas.
Selama berhari-hari, warga berkumpul di sekitar lesung kayu besar, menumbuk padi secara bergantian, merawat kebersamaan sekaligus menjaga warisan budaya yang telah hidup lintas generasi.
Di Desa Kedang Ipil, Kecamatan Kota Bangun Darat, Kutai Kartanegara, suara tumbukan lesung kayu masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setiap musim panen tiba. Tradisi itu dikenal dengan nama Nutuk Beham, sebuah ritual mengolah padi ketan yang hingga kini terus dijaga oleh masyarakat adat Kutai Lawas.
Bagi warga setempat, Nutuk Beham bukan sekadar proses menghasilkan bahan pangan. Tradisi ini menjadi bentuk syukur atas hasil panen sekaligus cara menjaga hubungan antargenerasi agar nilai-nilai yang diwariskan leluhur tidak hilang ditelan waktu.
Tokoh Adat Desa Kedang Ipil, Sartin, mengatakan tradisi tersebut mengajarkan masyarakat untuk menghargai proses panjang dalam menghasilkan makanan, sekaligus memahami akar budaya yang mereka miliki.
"Kita harus selalu ingat dengan asal usul warisan leluhur, sehingga tradisi penghormatan terhadap proses mengolah beras bisa terus berlanjut dan dipahami oleh para generasi muda," ujarnya.
Rangkaian Nutuk Beham dimulai dari pemilihan bulir padi ketan yang telah direndam. Padi kemudian disangrai bersama-sama menggunakan perapian tradisional hingga mengeluarkan aroma khas yang memenuhi area kegiatan.
Setelah cukup dingin, warga bergotong royong menumbuk padi menggunakan lesung kayu berukuran besar. Aktivitas ini dilakukan secara bergantian dan dapat berlangsung hingga tiga hari untuk menghasilkan beras ketan yang bersih dan siap diolah.
Di balik proses yang cukup panjang itu, tercipta ruang interaksi yang mempererat hubungan antarwarga. Obrolan, canda, hingga kerja sama yang terbangun selama proses penumbukan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari tradisi tersebut.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Timur, Lestari, mengatakan keberlanjutan Nutuk Beham menjadi salah satu alasan tradisi tersebut ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari Kalimantan Timur.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak hanya berhenti pada perlindungan, tetapi juga perlu didukung melalui berbagai program pengembangan agar tetap hidup di tengah masyarakat.
Selain menjaga tradisi, warga Kedang Ipil juga terus mewariskan pesan filosofis yang terkandung di dalamnya. Salah satunya adalah penghormatan terhadap pangan dan alam, termasuk ajaran untuk tidak menyia-nyiakan beras yang dahulu menjadi pegangan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Pada puncak pelaksanaan Nutuk Beham, beras ketan hasil tumbukan bersama kemudian dimasak dan disajikan untuk dinikmati seluruh warga serta para tamu yang datang berkunjung.
Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak, lesung kayu di Kedang Ipil masih berbunyi. Bukan hanya menumbuk padi, tetapi juga menjaga ingatan kolektif sebuah kampung tentang siapa mereka dan dari mana mereka berasal. (ant)



