Di tengah ambisi pertumbuhan yang lebih tinggi dan merata, dua sektor lama justru masih tertinggal. Padahal di sanalah fondasi daya tahan ekonomi Indonesia diuji.
EKSPOSKALTIM, Jakarta - Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, menilai akselerasi sektor manufaktur dan pertanian menjadi kunci agar pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih resilien dan berkelanjutan.
"Kalau ditanya apa strateginya agar Indonesia tumbuh secara resilien dan sustainable, ya memang harus menumbuhkan sektor-sektor yang memiliki kontribusi besar buat perekonomian Indonesia," kata Asmoro, yang akrab disapa Asmo, di Jakarta, Rabu malam (26/2).
Ia mencatat dalam tiga tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan industri manufaktur masih berada di kisaran 4,8 persen, sementara sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan hanya tumbuh sekitar 2,4 persen—angka yang dinilai belum cukup kuat menopang ekonomi nasional.
Menurut Asmo, sektor pertanian perlu didorong melampaui capaian tersebut, terlebih pemerintah tengah menjalankan program prioritas yang berkaitan langsung dengan ketahanan pangan. Ia memperkirakan, jika sektor pertanian mampu tumbuh hingga 4 persen, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi menembus di atas 5,5 persen.
Selain kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB), percepatan dua sektor ini juga dinilai krusial dalam menyerap tenaga kerja. Saat ini, mayoritas pekerja di sektor pertanian masih berada di sektor informal, sehingga membutuhkan pengelolaan lebih baik agar mampu menciptakan lapangan kerja formal.
Di sisi lain, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan juga memiliki potensi besar dalam meningkatkan devisa negara. Berbagai komoditas unggulan seperti kopi, kakao, kelapa, cengkeh, hingga pala memiliki orientasi ekspor yang kuat dan selama ini menjadi andalan Indonesia di pasar global.
Asmo juga menyoroti ketimpangan kontribusi wilayah terhadap perekonomian nasional. Dalam periode panjang 1984 hingga 2024, kontribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dari Sumatra dan Kalimantan justru cenderung menurun, meskipun kedua wilayah tersebut merupakan penghasil utama komoditas.
Sebaliknya, kontribusi Pulau Jawa terus meningkat, memperlihatkan ketidakseimbangan distribusi pertumbuhan ekonomi antarwilayah. Menurutnya, kondisi ini menuntut upaya lebih serius untuk mendorong pembangunan di luar Jawa agar pertumbuhan menjadi lebih merata.
Terkait proyeksi 2026, Asmo menilai tantangan utama ada pada menjaga momentum pertumbuhan, terutama pada kuartal II dan III yang minim dorongan musiman.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 diperkirakan sedikit lebih tinggi dibandingkan kuartal IV 2025. Hal ini didorong oleh faktor Ramadhan dan Lebaran, efek basis rendah dari periode sebelumnya, serta percepatan belanja pemerintah.
"Jadi, tiga poin ini yang mestinya kemungkinan besar pertumbuhan di kuartal I ini paling tidak, kalau tidak flat dengan kuartal IV 2025, mungkin akan sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal IV 2025 yang lalu," ujar Asmo.


