Jakarta, EKSPOSKALTIM – Ubi jalar menjadi salah satu bahan pangan lokal yang digemari karena mudah didapat, murah, dan memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Namun, para ahli mengingatkan bahwa umbi ini juga menyimpan risiko bagi penderita penyakit ginjal kronis jika dikonsumsi secara berlebihan.
Ahli gizi Nicola Shubrook seperti dikutip BBC Good Food menyebut ubi jalar sebagai superfood karena kandungan nutrisinya yang lengkap. Ubi jalar kaya akan beta-karoten, vitamin A, vitamin C, serat, serta berbagai mineral seperti zat besi dan magnesium. "Beta-karoten sangat penting untuk kesehatan mata, sedangkan serat mendukung sistem pencernaan yang sehat," ujar Nicola.
Travis Blanchard, ahli diet klinis, menyebut ubi jalar juga bermanfaat bagi jantung dan kekebalan tubuh. Kandungan potasium dan antioksidannya membantu menurunkan tekanan darah serta memperkuat sistem imun. Ia juga menyoroti kandungan indeks glikemik ubi jalar yang rendah, sehingga relatif aman bagi penderita diabetes selama dikonsumsi dalam jumlah wajar.
Namun, konsumsi ubi jalar tidak selalu aman untuk semua orang. Ubi jalar mengandung potasium (kalium) dalam jumlah tinggi, yakni sekitar 438 hingga 850 miligram per buah besar. Bagi penderita penyakit ginjal kronis, kelebihan potasium dalam darah atau hiperkalemia bisa menjadi kondisi yang berbahaya.
“Ginjal yang sudah terganggu akan kesulitan membuang kelebihan potasium. Jika dibiarkan, ini bisa menyebabkan gangguan irama jantung bahkan kematian,” jelas National Kidney Foundation dalam laman resminya.
Selain itu, ubi jalar juga mengandung oksalat, senyawa yang dapat berkontribusi terhadap pembentukan batu ginjal jika dikonsumsi dalam jumlah besar. Efek samping ringan lainnya, seperti perut kembung atau perubahan warna kulit menjadi kuning-oranye (karotenodermia), juga dapat terjadi jika konsumsi berlebihan dan terus-menerus.
Para ahli menyarankan konsumsi ubi jalar dalam porsi wajar. Yakni setengah hingga satu buah per hari. Tergantung kondisi tubuh masing-masing.
Bagi penderita ginjal, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi sebelum menjadikan ubi jalar sebagai makanan pokok.
“Ubi jalar jelas menyehatkan, tetapi seperti semua hal dalam pola makan, kuncinya ada pada keseimbangan,” tambah Nicola.
Dengan kandungan gizi yang berlimpah dan harga yang terjangkau, ubi jalar tetap layak dikonsumsi oleh masyarakat luas, asal dengan bijak.

