02 Desember 2020
  • PORTAL BERITA ONLINE
  • NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE
  • BERANI BEDA..!!
  • MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Opini : Berdamai Dengan Kemarahan Alam


Opini : Berdamai Dengan Kemarahan Alam
Abdul Harun mahasiswa (Mahasiswi IAIN Samarinda Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir)

EKSPOSKALTIM.COM - Isu krisis lingkungan menjadi isu penting yang dihadapi oleh Indonesia hingga dunia. Adanya fenomena alam berupa banjir, tanah longsor, gempa bumi bahkan tsunami, yang dari tahun ke tahun akumulasinya selalu bertambah dan cenderung tidak dapat terkendali. Sehingga realita adanya kebakaran hutan, banjir pada waktu musim penghujan dan kekeringan pada waktu musim kemarau disinyalir akibat dari adanya oknum-oknum perusak lingkungan yang tidak bertanggung jawab.

Tercatat, di Indonesia bencana yang terjadi di sepanjang tahun 2020, yakni 12 bencana gempa bumi, 256 kebakaran hutan. Kemudian disusul dengan banjir 726 bencana, tanah longsor sebanyak 367 kasus serta ditambah dengan jumlah korban meninggal dan hilang akibat dari bencana alam.

Indonesia sebagai negara dengan populasi penduduk muslim terbebesar didunia (87% atau 237 juta penduduk) seharusnya dapat menjadi agen dalam perannya merawat, menjaga bahkan melestarikan dan memakmurkan alam yang diciptakan oleh Tuhan.

Baca Juga: Kedai Kopi "Es" Tiqomah Raih Juara 1 Fun Battle Brewing di Bontang

Dengan semakin majunya peradaban yang seharusnya semakin baik pula pelestarian pada alam, namun berbanding terbalik dengan adanya sampah, polusi serta pencemaran lingkungan yang dihasilkan. Maka adanya fenomena banjir, tanah longsor, gempa bumi bahkan dengan tsunami merupakan salah satu bukti berupa bentuk kemarahan alam.

Sayyid Hosen Naser mengatakan, akibat aspek spiritual yang dipinggirkan membuat manusia modern berpandangan bahwa manusia dapat seenaknya mengeksploitasi alam secara berlebihan.

Menarik untuk melihat tanggapan Al-Qur’an terhadap oknum perusak lingkungan, yang hal ini terdapat didalam surah Ar-Rum ayat 41 Allah berfirman:

 “Telah tampak kerusakan didarat dan dilaut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendako agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jelan yang benar)”.

Ayat diatas, dapat diartikan bahwa krisis lingkungan hidup akan terjadi bila manusia sudah tidak memperhatikan kelestarian ekologi (lingkungan) secara keseluruhan ketika mengeksploitasi alam. Munculnya kerusakan fisik lingkungan hidup pada hakikatnya juga diakibatkan dengan adanya krisis mental manusia.

Tonton Juga Video : Tanggapi Surat Edaran Kementerian Tentang UMP, Disnaker Bakal Gelar Pertemuan dengan Pengupah

Hubungan yang kuat antara manusia dan alam bukan sekedar erat tapi juga vital. Sebab, kehidupan manusia sangat bergantung pada alam.

Hal ini didasarkan pada kebutuhan sekunder serta primer berupa oksigen, air dan juga makanan manusia diperoleh dari alam. Sementara alam hampir tidak mempunyai kebergantungan pada manusia, kecuali karbon dioksida yang dihasilkan oleh manusia saat bernafas pada siang hari dan jasad manusia yang dibutuhkan tumbuhan sebagai sumber hara dan bahan makanan.

Itupun jika posisi jasad tersebut terjangkau sebab kuburan manusia sekarang sudah beton, tentu sulit bagi tumbuhan untuk dapat mengakses manfaatnya.

Dalam Al-Qur’an, Allah menyatakan bahwa alam diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia,

“Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada demikian itu benar-benar terdapat (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir”. (Qs. Al-Jatsiyah [45]: 13)

Tonton juga video : Tidak Hadiri RDP Dewan, Disnaker Bontang Sampaikan Permohonan Maaf

Ayat tersebut dapat menjadi landasan manusia dalam pemanfaatan sumber daya alam untuk kebutuhan manusia. Pada dasarnya, Islam tidak melarang manusia untuk memanfaatkan alam, namun ada batasannya dengan tidak mengeksploitasi secara berlebihan.

Sehingga perlunya memanfaatkan alam dengan cara yang bijak dan bertanggung jawab dalam mengelola serta memelihata alam dan lingkungannya dengan tidak merusaknya.

Oleh sebab itu, manusia sebagai khalifah  dimuka bumi sudah menjadi tugas dan kewajibannya dalam memakmurkan bumi, Hal ini menunjukkan bahwa kelestarian dan kerusakan alam berada di tangan manusia.

Penulis: Abdul Harun mahasiswa (Mahasiswi IAIN Samarinda Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir)

Artikel di atas menjadi tanggung jawab penulis, bukan redaksi EKSPOSKaltim.com

Reporter :     Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%


Comments

comments


Komentar: 0