28 Oktober 2020
  • PORTAL BERITA ONLINE
  • NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE
  • BERANI BEDA..!!
  • MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Opini : Berdamai dengan Overthinking Untuk Kesehatan Mental di Situasi Pandemi


Opini : Berdamai dengan Overthinking Untuk Kesehatan Mental di Situasi Pandemi
Indah Titi Rahayu, Mahasisiwi IAIN Samarinda. (ist)

EKSPOSKALTIM.COM - Perasaan cemas, gelisah, dan takut, kerap terjadi terlebih pada situasi saat ini.  Hal ini terjadi hampir pada semua golongan masayarakat  mulai dari kalangan elit hingga bawah. Pemberitaan gencar terdengar di semua media masa, mulai daring hingga cetak.

Kecemasan kian merajai setiap fikiran individu, terlebih saat melihat pemberitaan yang melaporkan kian bertambahnya pasien dan korban meninggal dunia, akibat covid-19. Hal ini kian menambah kecemasan pada masyarakat, takut tertular dan menularkan pada orang terdekat adalah hal yang paling dominan terjadi.

Baca juga : Opini : Hobi di Saat Pandemi

Kejadian saat ini akan mengubah pola fikir sebagian masayarakat, terlebih pada masyarakat yang memiliki tingkat kecemasan yang cukup tinggi. Cemas saat harus keluar rumah, cemas karna harus memiliki pengeluaran lebih demi menjaga kesehatan, pekerjaan terhambat, anak yang di tuntut untuk belajar di rumah, dan sapek-aspek lain yang terlibat dalam permasalah ini. Semua hal ini secara tidak langsung akan menambah beban pikran individu.

Overthinking merupakan dua kata yang berasal dari kata “over” dan “thinking” yang berarti pikiran berlebih. Ini merupakan sebuah keadaan di mana otak dan fikiran tenggelam dalam suatu momen yang membawa pada keadaan cemas dan gelisah yang berlebihan.

Dengan keadaan yang demikian maka perasaan semacam ini akan membawa pada situasi yang hanya terfokus pada keadaan satu titik, tentu hal ini akan banyak menimbulkan kerugian pada diri sendiri dan keadaan sekitar.

Dari kecemasan dan kehawatiran yang timbul ini, otak akan menghasilkan sebuah respon yang berdampak pada psikologis dan juga kesehatan mental. Karena secara tidak langsung akan terjadi sebuah kondisi di mana mulai dari perubahan suasana hati, cemas berlebih dan juga bentuk yang paling parah adalah depresi.

Overthinking yang terus timbul pada diri seseorang secara tidak disengaja dan terus menerus akan memicu munculnya sakit pada mental seseorang.

Overthinking akan menjadi masalah baru dalam kehidupan saat ini, mengingat bagaimana situasi dan kondisi yang kian parah dirasakan. Penyebaran Covid-19 yang kian hari kian meningkat menimbulkan ke hawatiran yang berlipat.

Virus yang muncul pada akhir tahun 2019 lalu  tepatnya pada Desember 2019 di kota Wuhan, Cina ini, menyebar dengan sangat cepat di seluruh negara. Dengan penyebaran yang cepat diketahui telah merambah ke seluruh negara tak terkecuali Indonesia.

Keadaan ini terhitung  hanya dalam hitungan bulan saja, hal ini terjadi  dari kasus pertama yang ditemukan. Keadan ini memaksa hampir seluruh neggara menerapkan tatanan pola hidup baru, dan sebagian lagi memilih untuk melakukan Lockdown  atau langkah lain yang di lakukan Indonesia adalah salah satunya PSBB atau pembatasan sosial bersekala besar.

Semua masyarakat akan dituntut untuk hidup dengan keadaan baru, kondisi baru dan tatanan masyarakat yang berbeda. Selain itu dampak dari pandemi saat ini mejadi permasalahn yang serius, misalnya saja sektor pendidikan, dan yang paling terasa adalah sektor ekonomi.

Keadaan ekonomi saat ini jauh dari gambaran rata-rata normal, dengan berdampak hampir seluruh kalangan merasakan dampaknya dan yang dinilai paling merasakan adalah kalangan menengah bawah.

Dengan keadaan yang demikian maka tidak menutup kemungkinan bahwa sebagian besar msayarakat akan memiliki bentuk pikiran yang berlebih atau Overthinking. Overtingking  tidak akan menjadi masalah  yang serius apabila dapat dikelola  dengan baik. Namun akan mejadi masalah yang serius apabila individu terlalu memikirkan hal-hal negatif yang mengganggu pikiran.

Bahaya yang ditimbulkan dari Overthinking secara tidak disadari tidak hanya terjadi secara psikis namun juga fisik. Mengapa demikian? Mengapa bisa berdampak pada fisik? Terlebih melihat kondisi pandemi saat ini. Tentu ini akan dapat terlihat dari bagaiman Overthinking menyetel sistem otak untuk terus berfikir menghawatirkan segala sesuatu yang membawa pada kondisi tatanan pola istirahat, diantaranya adalah sulit tidur, akibatnya anda akan bergadang dan menghasilkan keadaan tubuh yang terasa lelah, hal ini diakibtkan dari otak yang diajak terus berfikir sehingga menyita waktu dan tenaga.

Selain itu kekhawatiran yang timbul dan berbahaya dari pikiran Overthinking  di tengah pandemi saat ini adalah dengan tidak percaya pada penilaian pribadi. terlalu terfokus pada satu pikiran yang menghasilkan sebuah penundaan  untuk memikirkan hal lain. Ini dilihat dari pola masyarakat yang akan terus berfikir negatif dengan kondisi lingkungan. Takut keluar rumah dan alhasil menghambat segala bentuk aktivitas.

Kadaan semacam ini akan terus terjadi tanpa disadari dan bisa saja ini menjadi sebuah kebiasaan yang berdampak negatif pada kesehatan mental dan juga fisik individu. Menjadi pribadi yang mencemaskan segala sesuatu yang terjadi.

Meskipun diketahui pikiran berlebih akan banyak menghasilkan dampak negatif ketimbang dampak positifnya. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa ada pula dampak positif dari Overthinking. Salah satunya adalah sikap antisipasi. Denga sikap antisipasi yang dihasilkan individu dinilai akan mampu memiliki perlindungan lebih sebelum menghadapi segala sesuatu yang akan terjadi. Individu akan lebih memiliki persiapan untuk menghadapi sesuatu kecemasan yang dinilai akan dihadapi.

Namun apabila Overthinking tidak dikelola dengan baik maka akan menghasilkan dampak yang dapat merugikan diri individu, perlunya pengelolaan yang dilakukan agar tidak berdampak pada gangguan kehidupan sehari-hari. Lalu bagaimana menghadapi sikap Overthinking di tengah pandemi saat ini ?.

Salah satu upaya yang mungkin dapat dilakukan dalam mengahapi pikiran negatif adalah dengam beberapa cara yakni salah satunya adalah:  Coping Tough, atau salah satu teknik yang dapat digunakan untuk mengatur pola fikir dan membentuk pola fikir, asumsi dan mengalahkan diri (Beach,1995).

Dengan pengolaan pola fikir yang baik maka individu dapat menemukan solusi dari kecemsan dan pikiran negatif. Kemudian ada cara lain yang dapat dilakukan untuk membatasi Overthinking adalah dengan menyadari setiap keadaan yang memicu terjadinya Overthinking ini dapat melihat situasi yang terjadi.

Menyadari setiap segala sesuatu yang memicu terjadinya Overthinking dapat mengurangi kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Dalam upaya melakukan perlawanan dengan Overthinking maka perlu adanya penyadaran bahwa Overthinking adalah sesuatu yang sia-sia.

Mengalihkan segala sesuatu yang memicu Overthinking ke arah yang lebih positif, caranya dengan banyak melakukan kegitan yang lebih menambah waktu produktif setiap hari kemudian meningkatkan tingkat spiritual. Usaha berdamai dengan Overthinking di tengah pandemi adalah upaya untuk menjaga kesehatan mental dan juga fisik di tengah pandemi.

Baca juga : Opini : Pemanfaatan Media Sosial di Tengah Pandemi

Meskipun belum diketahui seberapa lama kita akan berada dalam situasi saat ini,  bagaimana kita harus mengatur kehidupan di situasi yang serba baru, dan bagimana berdamai dengan situasi dan fikiran kita sendiri. Namun kehidupan harus tetap berjalan sedemikian adanya.

Maka yang paling penting yang perlu dilakukan adalah melakukan langkah untuk menghindari Overthinking dan melakukan penerimaan terhadap situasi yang terjadi. Tetap berfikir positif di tengah pandemi adalah cara yang efektif untuk menjaga sistem imun tubuh. Tetap sehat baik secara fisik ataupun mental merupakan sebuah pencapaian yang harus didapatkan di tengah pandemi saat ini. 

Karena dengan keadaan mental yang sehat individu dapat produktif dalam melakukan pekerjaan. Terlebih kadang kita lupa bagaimana memberikan lebih banyak waktu untuk diri sendiri. Oleh karenanya sama-sama perlu kita sadari bahwa setiap keadaan yang tejadi perlu adanya respon positif dari dalam diri pribadi.

Penulis :  Indah Titi Rahayu (Mahasisiwi IAIN Samarinda Prodi Bimbingan dan Konseling Islam)

Artikel di atas menjadi tanggung jawab penulis, bukan redaksi EKSPOSKaltim.com

Reporter :     Editor : Abdullah

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%


Comments

comments


Komentar: 0