EKSPOSKALTIM.com, Bontang - Tewasnya bocah 7 tahun di lokasi pembangunan Masjid Terapung di Selambai, Kelurahan Loktuan pada Selasa (3/9/2019) lalu, menuai sorotan anggota DPRD Bontang yang juga merupakan warga setempat, Faisal.
Faisal mengaku, saat kejadian, politisi Partai Nasdem ini sedang berada di luar kota, dan hanya mendapat info terkait kejadian tersebut melalui telepon.
Baca juga: Pengurus Saka Bakti Husada Kutim Resmi Dilantik
Ia menyayangkan kelalaian pihak kontraktor hingga peristiwa mengenaskan itu terjadi di awal pembangunan masjid bernilai anggaran Rp 33 miliar ini, yang diproyeksikan menjadi ikon Bontang sebagai kota Maritim.
“Ini jelas ada unsur kelalaian,” ujarnya saat dihubungi via telepon.
Soal area kerja pun, Faisal sangat menyayangkan lokasi proyek yang terbuka dan tanpa pelang pekerjaan proyek. Karena itu, mantan Wakil Ketua DPRD Bontang ini meminta pemasangan CCTV pada proyek pembangunan Masjid Terapung ini.
Pemasangan CCTV, lanjut Faisal, dianggap penting. Apalagi, proyek tersebut juga berpapasan dengan lalu lalang para nelayan. Sehingga para nelayan dan aktivitas proyek bisa terpantau.
“Saya belum bertemu dengan pihak kontraktor lagi, baru komunikasi lewat telepon saja,” imbuhnya.
Faisal juga meminta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota (PUPRK) Bontang lebih ketat dalam mengawasi kontraktor. Mulai dari situasi dan safety kerja kontraktor. Sementara kontraktor pemenang, meski di laut, tetap harus melengkapi alat pelindung diri (APD).
Menurutnya, kontraktor pemenang melakukan kelalaian, mengingat nilainya yang besar, seharusnya safety-nya juga bagus. Namun, Faisal yang rumahnya tak jauh dari lokasi kejadian melihat pekerjaan Masjid Terapung jauh dari kata tertib. Mulai dari keamanan pekerja, lokasi, hingga alat kerja.
Baca juga: RSUD Kudungga Sangatta Tuntaskan Klaim Kelebihan Pembayaran BPJS Kesehatan
“Di awal saya melihat pekerja proyek tersebut tidak pakai pelampung, tidak pakai topi, tidak pakai kaos tangan. Padahal mereka kerja di laut. Itu saya lihat kemarin-kemarin, tidak tahu saat ini apa sudah menggunakan alat pelindung diri,” ujarnya.
Alibi saat peristiwa anak tenggelam terjadi, karena para pekerja sedang istirahat. Namun, kata Faisal, tak ada alasan untuk kelalaian. Seharusnya istirahat bergantian, jangan biarkan proyek dalam kondisi kosong.
Senada, Kadis PUPRK Bontang Tavip Nugroho juga mengusulkan agar kontraktor memasang CCTV di area pembangunan Masjid Terapung. Hal itu sudah dilakukan di proyek lanjutan Pasar Rawa Indah, sehingga diharapkan bisa diterapkan juga di proyek lainnya.(adv)

