EKSPOSKALTIM, Bontang – Puasa bukan sekedar kegiatan keagamaan yang wajib dilakukan umat muslim. Lebih dari itu, ternyata puasa juga memiliki khasiat yang baik, untuk menjaga kesehatan terutama lambung kita, dan jika disertai dengan diet yang benar, puasa memberikan efek luar biasa bagi kesehatan tubuh.
Dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Pupuk Kalimantan Timur (RSPKT), Anney Boron, mengatakan saat berpuasa, seseorang harus menjaga pola makannya agar tidak diserang nyeri lambung (dispepsia. red). Puasa hanya akan memberi manfaat besar bagi kesehatan jika mengonsumsi karbohidrat kompleks, protein, serat, dan air dalam jumlah cukup saat buka dan sahur.
“Seperti yang kita ketahui, puasa itu sering terjadi gangguan lambung, baik bagi orang – orang yang sudah memiliki penyakit lambung maupun yang tidak memiliki penyakit lambung. Dalam hal ini kita lihat dalam berpuasa pola makan kita akan cenderung lebih teratur, jadi untuk orang – orang yang memiliki gangguan lambung, keteraturan pola makan bisa diatur selama menjalankan puasa,” kata Anney, Rabu (8/6/16).
Menurutnya, semua orang pernah mengalami dispepsia, baik laki-laki maupun perempuan. Satu di antara 4 orang pasti mengalami hal ini. “Dispepsia juga merupakan suatu sindroma (kumpulan gejala) yang mencerminkan gangguan saluran cerna,” ujarnya.
Lebih jauh Anney menjelaskan, kumpulan gejala tersebut seperti rasa tidak nyaman, mual, muntah, nyeri ulu hati, lambung merasa penuh atau sebah (bloating. red), kembung, sendawa, cepat kenyang, perut keroncongan hingga selalu buang angin. Gejala itu bisa akut, berulang, dan bisa juga menjadi kronis. Disebut kronis jika gejala itu berlangsung lebih dari satu bulan terus-menerus.
“Nah, pada saat berpuasa, kita bisa terhindar dari dispepsia karena makannya menjadi teratur saat sahur dan berbuka. Selain itu, faktor stresnya terkendali sehingga menjadi lebih tenang,” ujar Anney.
Beberapa kebiasaan yang bisa menyebabkan dispepsia adalah menelan terlalu banyak udara. Misalnya, mereka yang mempunyai kebiasaan mengunyah secara salah (dengan mulut terbuka atau sambil berbicara), atau mereka yang senang menelan makanan tanpa dikunyah (biasanya konsistensi makanannya cair).
“Keadaan itu bisa membuat lambung merasa penuh atau bersendawa terus. Kebiasaan lain yang bisa menyebabkan dispesia adalah merokok, konsumsi kafein (kopi), alkohol, atau minuman yang sudah dikarbonasi (softdrink), bahkan makanan yang menghasilkan gas seperti tapai, nangka, dan durian. Pola makan kita teratur saat puasa, sehingga lambung tidak banyak bekerja dan lebih rileks,” kata dia.
Anney mengatakan meskipun tidak terlalu signifikan, puasa juga bermanfaat bagi yang ingin menurunkan berat badan berlebih. Dengan berpuasa, otomatis seseorang akan menahan keinginan untuk ngemil dan frekuensi makan juga berkurang.
“Bagi penderita obesitas yang berpuasa hal ini sangat bagus dan dianjurkan,” kata dia.
Diungkapkannya, beberapa penelitian memang menunjukkan bahwa kekosongan saluran pencernaan saat berpuasa meningkatkan kadar asam lambung namun kondisi asam lambung akan kembali normal setelah berbuka.
“Jadi penderita sakit maag tetap bisa berpuasa. Bagi penderita sakit maag tertentu, puasa justru dapat menyembuhkan,” pungkasnya

