PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Saat 80 Tukik Menjadi Alasan Balikpapan Tolak Reklamasi

Home Berita Saat 80 Tukik Menjadi Ala ...

Pelepasliaran 80 tukik penyu lekang di Pantai Damba Enggang Borneo bukan sekadar seremoni Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Momen itu sekaligus mengungkap pentingnya kawasan pesisir Balikpapan sebagai lokasi peneluran penyu yang kini mendapat komitmen perlindungan dari pemerintah kota.


Saat 80 Tukik Menjadi Alasan Balikpapan Tolak Reklamasi
Wali Kota Balikpapan, Rahmad Masud ikut melepas 80 tukik Penyu Lekang di Pantai Damba Enggang Borneo, Kecamatan Balikpapan Selatan, Kota Balikpapan, pada Senin (8/6/2026) sore. Foto: Erik/Eksposkaltim

EKSPOSKALTIM, Balikpapan – Sebanyak 80 ekor anak penyu (tukik) jenis penyu lekang resmi dilepasliarkan ke habitat aslinya di kawasan Pantai Damba Enggang Borneo, Kecamatan Balikpapan Selatan, Kota Balikpapan, pada Senin (8/6/2026) sore.

Langkah-langkah kecil puluhan tukik mungil saat menyusuri hamparan pasir di pantai yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman, Stalkuda tersebut, membawa pesan mendalam. Agenda yang digelar untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini menjadi simbol perlawanan lokal terhadap berbagai ancaman yang mengintai ekosistem pesisir.

Aksi nyata penyelamatan biota laut ini lahir dari kolaborasi antara Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Balikpapan dengan pengelola Pantai DEB. Ketua JMSI Balikpapan, David Purba, mengungkapkan bahwa puluhan tukik yang dilepas merupakan hasil penetasan dari sarang alami di kawasan tersebut.

“Dari sekitar 160 telur penyu yang ditemukan, sebanyak 80 tukik berhasil menetas dan hari ini kita lepaskan kembali ke habitat alaminya. Harapannya, mereka dapat bertahan hidup dan membantu menambah populasi penyu lekang yang saat ini semakin langka,” kata David.

Tidak hanya fokus pada konservasi satwa, David juga mendesak adanya solusi konkret mengatasi persoalan sampah yang kerap mencemari pesisir. Ia mendorong pemasangan jaring apung di sejumlah muara sungai demi membendung sampah agar tidak hanyut ke laut.

“Kami berharap ada langkah konkret untuk menahan sampah yang terbawa arus sungai menuju laut. Sampah plastik dapat merusak kawasan tempat penyu bertelur dan mengancam keberlangsungan biota laut,” ujarnya menambahkan.

Komitmen Wali Kota

Momen pelepasliaran ini juga memantik respons dari Wali Kota Balikpapan, Rahmad Mas'ud, terkait isu penataan ruang pesisir. Mengetahui kawasan tersebut menjadi lokasi peneluran penyu lekang, Rahmad secara tegas menolak rencana alih fungsi lahan menjadi area reklamasi.

"Saya baru tahu kalau di kawasan ini menjadi tempat peneluran penyu lekang. Ini akan menjadi dasar kami untuk meminta kepada pemerintah pusat agar jangan sampai memberikan perizinan reklamasi pantai di sini," tegas Rahmad.

Bagi Rahmad, pelepasan satwa dilindungi ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan representasi komitmen pemkot dalam menjaga keberlanjutan ekosistem kelautan.

"Tukik yang kita lepaskan mungkin terlihat kecil dan rapuh, namun tersimpan harapan besar bagi masa depan ekosistem laut kita. Laut bukan hanya penopang ekonomi dan sumber pangan, tetapi bagian penting dari keseimbangan bumi. Upaya konservasi ini harus menjadi gerakan berkelanjutan," cetus Wali Kota.

Rumah Tiga Spesies Penyu

Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Balikpapan, perairan Balikpapan merupakan rumah bagi tiga dari enam spesies penyu yang ada di Indonesia. Ketiganya meliputi penyu lekang, penyu sisik, dan penyu hijau.

Secara internasional, seluruh spesies tersebut masuk dalam daftar Apendiks I CITES (tidak boleh diperdagangkan). Berdasarkan status kepunahannya, penyu lekang dikategorikan rentan (vulnerable), penyu hijau terancam punah (endangered), dan penyu sisik berstatus kritis (critically endangered).

Pengawas Perikanan DKP3 Balikpapan, Hery Saputro, menjelaskan bahwa kehadiran penyu sangat vital untuk menjaga keseimbangan ekosistem laut, mulai dari mengendalikan populasi ubur-ubur, menjaga pertumbuhan terumbu karang dari dominasi spons, hingga menyuburkan padang lamun. Namun, eksistensi mereka kini terbentur tembok tebal proyek infrastruktur.

"Penyu itu sebenarnya bisa naik dan bertelur di mana pun selama ada pasir yang lembut dan putih. Tetapi kalau sudah ada proyek reklamasi, disemen, dipasang barikade, atau pelindung pantai buatan, penyu tidak akan mau naik lagi. Mereka hanya mau bertelur jika kondisi pantai dibiarkan alami," beber Hery.

Selain hilangnya garis pantai alami akibat semen reklamasi, polusi laut dan aktivitas penangkapan ikan ilegal menjadi rapor merah kelangsungan hidup biota ini. Guna meminimalkan angka kematian penyu akibat tersangkut jaring, pemerintah kini gencar mendorong nelayan tangkap mengaplikasikan alat pelindung penyu atau Turtle Excluder Device (TED).

Sejauh ini, DKP3 Balikpapan mencatat sedikitnya 65 ekor penyu pernah diselamatkan di perairan setempat. Angka tersebut didominasi oleh penyu lekang, disusul 7 hingga 8 ekor penyu hijau, dan 2 ekor penyu sisik. Pantai DEB, Pantai Seraya, Pantai APN - Brimob Polda Kaltim, serta Pantai Manggar menjadi segelintir spot alami yang tersisa bagi penyu untuk mendarat dan bertelur.

Jejak Konservasi Pesisir Balikpapan

Fenomena penyu bertelur di kawasan urban Balikpapan sebenarnya bukan hal baru. Pada April 2025 lalu, publik sempat dihebohkan oleh video viral yang merekam kemunculan 98 ekor tukik yang menetas alami di Pantai SPN (Sekolah Polisi Negara) Balikpapan.

Kepala Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak, Syarif Iwan Taruna Alkadrie, menilai fenomena di Pantai SPN serta laporan-laporan dari nelayan dan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) membuktikan betapa krusialnya pesisir Balikpapan sebagai habitat satwa ini.

Iwan menceritakan pihaknya bahkan pernah merelokasi sarang penyu sisik di kawasan pantai sepi dekat Bandara Sepinggan pada 2021 silam guna menghindarinya dari predator seperti biawak. Dari aksi penyelamatan tersebut, 84 ekor tukik berhasil dikembalikan ke lautan lepas.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :