EKSPOSKALTIM, Jakarta – Nilai tukar rupiah terus merosot hingga Rp16.611 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (25/3), level terendah sejak 1998. Jika terus melemah, dampaknya bisa sangat besar bagi ekonomi dan kehidupan masyarakat. Berikut analisis dari ekonom Universitas Mulawarman (Unmul), Purwadi dkk:
1. Biaya Impor Naik
Barang impor seperti bahan bakar, makanan, elektronik, dan mesin jadi lebih mahal.
Biaya produksi meningkat bagi bisnis yang bergantung pada bahan baku luar negeri.
2. Inflasi Meningkat
Harga-harga melonjak akibat mahalnya barang impor.
Daya beli masyarakat turun, biaya hidup makin mahal.
3. Beban Utang Membengkak
Pemerintah dan perusahaan sering meminjam dalam dolar AS.
Pelemahan rupiah bikin cicilan utang makin mahal dalam rupiah.
4. Tekanan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah
Kebutuhan pokok makin sulit dijangkau.
Kenaikan gaji tidak sebanding dengan naiknya harga-harga.
5. Investasi Asing Bisa Melambat
Investor lebih waspada karena risiko tinggi.
Namun, bagi sebagian investor, tenaga kerja dan aset murah bisa jadi peluang.
6. Sisi Positif: Ekspor dan Pariwisata Bisa Meningkat
Produk Indonesia lebih murah di pasar global, mendorong ekspor.
Pariwisata berpotensi naik karena biaya berlibur ke Indonesia lebih terjangkau.
Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?
Ekonom Universitas Mulawarman, Purwadi, menantang pemerintah untuk berani menghentikan utang luar negeri. Menurutnya, beban fiskal harus dikurangi agar utang negara tidak semakin membengkak.
"Pemerintah berani setop utang tidak?" tantang Purwadi dikontak media ini, baru tadi.
Ia juga mendorong pemerintah dan DPR untuk segera mengesahkan UU Perampasan Aset guna mempercepat pemulihan kerugian negara akibat korupsi dan tindak pidana keuangan lainnya.
"Kalau uang koruptor bisa balik ke negara, lumayan, mungkin totalnya ribuan triliun," jelasnya.
Selain itu, Purwadi menyarankan pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada impor guna memperkuat ekonomi dalam negeri.
"Selanjutnya, ya pemerintah harus berani menyetop impor," pungkasnya.

