Samarinda, EKSPOSKALTIM – Para petani milenial di Kalimantan Timur (Kaltim) tampil sebagai pionir membangun ketahanan pangan daerah. Lewat inovasi, mereka menggarap lahan eks tambang jadi sawah, hingga memproduksi sayuran hidroponik yang langsung dipasok ke swalayan.
Koordinator Wilayah Duta Petani Milenial (DPM) Kaltim, I Made Susana, mengatakan anak muda Kaltim bertekad membawa perubahan positif bagi sektor pertanian. Salah satunya dengan memanfaatkan lahan-lahan tidur pasca tambang.
“Saya lahir dari keluarga petani. Sekarang saya membudidayakan jamur tiram di Tenggarong Seberang, dan juga mengelola sawah di atas lahan bekas tambang,” kata Made, Senin (30/6).
Tak hanya mengembangkan pertanian, Made juga terjun langsung ke lapangan agar memahami betul tantangan petani.
“Kami ingin menyumbangkan ide dan gagasan dari pengalaman langsung di lapangan. Anak muda punya peran besar memajukan pertanian kita,” ujarnya.
Hingga kini, terdapat 36 DPM yang telah terdaftar di Kementerian Pertanian, dengan 72 lainnya masih dalam proses. Para petani muda ini juga mengelola Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Petani Muda Keren. Fasilitas ini menjadi tempat praktik, magang, hingga riset bagi mahasiswa dan siswa SMK pertanian.
Menurut Made, pertanian Indonesia butuh SDM cerdas dan berdedikasi. Ia juga menyoroti persoalan klasik seperti sistem pengairan yang belum optimal.
Sementara itu, DPM lain asal Samarinda, Fransiskus Darmansius, memulai langkahnya sebagai petani hidroponik usai mengunjungi pameran pertanian pada 2018.
“Saya mulai belajar secara otodidak. Awalnya gagal tanam sawi dan selada karena salah nutrisi,” ujarnya.
Namun ia tak menyerah. Setelah riset kecil-kecilan, Fransiskus berhasil menemukan formula nutrisi AB Mix yang cocok. Berbekal botol-botol bekas, ia menanam pakcoy, selada, hingga daun mint.
“Hasil panen hidroponik kami tidak dijual di pasar tradisional. Semuanya dipasok ke swalayan,” kata Fransiskus.

