PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

OPINI : Pendidikan di Masa Pandemi Mengancam Kesehatan Mental Anak

Home Berita Opini : Pendidikan Di Mas ...

OPINI : Pendidikan di Masa Pandemi Mengancam Kesehatan Mental Anak
Dwi Susanti (Mahasiswi KKN-DR 19 Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda). (ist)

EKSPOSKALTIM.COM - Pada awal tahun 2020 lalu dunia tengah dikejutkan dengan virus yang secara tiba-tiba menjangkiti mayoritas penduduk negara termasuk penduduk di Indonesia yaitu virus Covid-19. Virus ini menjadi permasalahan yang serius sebab perkembangan dan penularannya terjadi begitu cepat, dimana dapat menyebabkan infeksi yang lebih parah dan gagal organ jika terpapar virus ini. ( Mona,2020:117). Hampir seluruh sektor terdampak akibat virus ini, salah satunya dalam sektor pendidikan.

Padahal pendidikan adalah tulang punggung suatu bangsa. Kemajuan sebuah pendidikan menjadi tolak ukur keberhasilan suatu bangsa, yang akan melahirkan sumber daya manusia (SDM ) yang unggul dan berkualitas. Tidak hanya itu, menurut agama islam menuntut ilmu wajib hukumnya bagi muslim laki-laki mau pun perempuan. (Ibnu Majah No. 224)

"Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap individu muslim."

Maka dari itu perlu kiranya untuk memperhatikan manusia sebagai objek pendidikan, khususnya pada peserta didik yang duduk di satuan sekolah dasar. Pada usia sekolah dasar peserta didik tengah berada di masa golden age, dimana masa ini dianggap sebagai tahapan pertumbuhan dan perkembangan yang paling penting pada masa awal kehidupan anak.

Namun di situasi seperti ini, pemerintah pusat harus mengeluarkan kebijakan untuk menekan perkembangan dan penularan virus Covid-19 dengan pemberlakuan pembatasan sosial pada seluruh lembaga-lembaga pendidikan. Pemberlakuan pembatasan sosial dalam bidang pendidikan yaitu dengan adanya pemberlakuan sistem pembelajaran jarak jauh ( PJJ ).

Pembelajaran jarak jauh ( PJJ ) yang dilaksanakan hingga saat ini, terus saja menuai banyak polemik yang disebabkan oleh beberapa hal :

Pertama, kesulitan mengakses pembelajaran yang dilakukan melalui jaringan internet. Pembelajaram yang menggunakan jaringan internet sudah pasti memerlukan fasilitas penunjang berbasis teknologi seperti komputer, Handphone, jaringan dan kuota internet. Namun tidak semua orang memiliki fasilitas dan keahlian dalam menggunakan fasilitas tersebut. Dampaknya peserta didik tidak mampu mengikuti pembelajaran jarak jauh ( PJJ ) dengan maksimal dan peserta didik akan mengalami kekhawatiran dan kecemasan ketika ketinggalan pelajaran.

Kedua, pengawasan dan kesiapan orang tua dalam mendampingi anak dalam masa pembelajaran jarak jauh ( PJJ ) . Pada saat ini orang tua di tuntut untuk mendampingi anak saat melaksanakan pembelajaran. Realitanya tidak semua orang tua yang meluangkan waktu untuk anaknya, tidak semua orang tua mampu memenuhi fasilitas dalam masa pembelajran jarak jauh untuk anaknya dan tidak semua orang tua mampu menggunakan gadget. Terkadang karena ketidak siapan orang tua, mereka sulit untuk mengendalikan emosi. Tidak sedikit orang tua yang sering marah, berteriak dan tidak enggan untuk memukul anak hanya karna tugas pembelajaran jarak jauh. Dampaknya peserta didik akan merasa tertekan, merasa tidak aman, dan mengalami kecemasan.

Ketiga, kemampuan dan sikap guru dalam pembelajaran jarak jauh. Pembelajaran jarak jauh menjadi hal yang baru untuk para guru. Guru dituntut untuk lebih inovatif dan kreatif dalam mengelolah proses pembelajaran jarak jauh. Kurangnya kemampuan guru dalam penggunaan teknologi, alhasil tidak sedikit guru yang hanya memberikan tugas saja tanpa memberikan penjelasan. Selain itu  waktu pengumpulan tugas yang singat menjadi permasalah tersendiri dalam pembelajaran jarak jauh. Lagi-lagi dampaknya lebih kepada peserta didik. Peserta didik akan lebih cenderung untuk mencari hal yang instan di google, mereka akan merasa lebih tertekan, bosan, dan hilang semangat belajarnya. ( Sumber : Ahdar, dosen IAIN Pare-Pare )

Dari pemaparan tersebut, yang benar-benar terdampak adalah peserta didik terkhusus pada perkembangan kesehatan mentalnya. Kesehatan mental yang baik adalah mereka yang mampu beradaptasi dengan keadaan, mampu menghadapi stress, menjaga hubungan yang baik dengan orang disekitar dan bangkit dari keadaan yang sulit. Namun realita yang terjadi seperti tidak mendukung pembentukan mental anak dengan baik. Peserta didik akan sulit beradaptasi dengan keadaan jika dalam pemenuhan kebutuhannya saja tidak terpenuhi. Tindakan orang tua dan guru yang salah secara tidak sadar membuat anak merasa cemas, khawatir, dan ketakutan akan membuat mereka stress. Mereka juga akan memiliki sikap yang susah untuk bergaul dan cenderung lebih individualisme sebab pembatasan sosial ini. Sungguh ini adalah hal yang sangat mengkhawatirkan jika terus berlanjut tanpa adanya sebuah perubahan. Kesehatan mental peserta didik akan memburuk seiring berjalannya waktu.

Oleh sebab itu, pemerintah, guru dan orang tua harus lah menjadi mitra kerja yang solid. Saling bekerja sama untuk menjaga kesehatan mental anak sebagai sumber daya manusia (SDM ) bangsa yang unggul dan berkualitas. Pemerataan fasilitas pembelajaran di masa pandemi harus bisa diupayakan oleh pemetintah. Tidak hanya itu pemerintah perlu melakukan sosialisasi berkala dalam pembelajaran berbasis internet agar mengasah keahlian guru. Sebagai seorang guru juga perlu terus belajar dan terus berinovasi dalam membuat media pembelajaran yang menarik dan tidak membosankan bagi peserta didik. Dan yang menjadi ujung tombak dari usaha ini adalah orang tua. Orang tua harus bisa menyediakan waktu untuk anak dalam pembelajaran. Mengendalikan amarah dan emosi merupakan hal utama dalam melakukan pendampingan kepada anak. Dibalik situasi ini sudah tentu ada hikmahnya. Kita sebagai umat dimuka bumi ini harus tetap bersabar dan tidak mudah putus asa dengan keadaan.

Penulis : Dwi Susanti (Mahasiswi KKN-DR 19 Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda)

(Artikel di atas menjadi tanggung jawab si penulis, bukan redaksi EKSPOSKaltim.com)


Editor : Abdullah
Tags : \\

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :