PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

SPMB Samarinda Masuk Babak Penentuan, Jalur Domisili Diprediksi Jadi yang Paling Sengit

Home Berita Spmb Samarinda Masuk Baba ...

Meski jalur afirmasi, mutasi, dan prestasi berjalan relatif lancar, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Samarinda mengingatkan fase paling menentukan SPMB 2026 justru baru dimulai saat jalur domisili dibuka pada 22 Juni, terutama di rayon dengan selisih daya tampung yang sangat tipis.


SPMB Samarinda Masuk Babak Penentuan, Jalur Domisili Diprediksi Jadi yang Paling Sengit
Calon peserta didik bersama orang tua di salah satu sekolah Samarinda pada saat pendaftaran SPMB. Ekspos/Sintya

EKSPOSKALTIM, Samarinda — Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) jenjang SMP Kota Samarinda melalui jalur afirmasi, mutasi, dan prestasi sejauh ini berlangsung tanpa persoalan berarti.

Namun, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda menilai tahapan paling krusial justru baru akan dimulai saat jalur domisili dibuka pada 22 Juni mendatang.

Kepala Bidang Pembinaan SMP Disdikbud Samarinda, Wahiduddin, mengatakan evaluasi sementara menunjukkan proses pendaftaran yang telah berjalan sejak 11 Juni lalu masih terkendali.

“Alhamdulillah berjalan lancar saja. Belum dijumpai atau ada laporan dari sekolah mengenai masalah yang krusial,” ujarnya.

Menurut Wahiduddin, karakteristik jalur afirmasi, mutasi, dan prestasi membuat proses verifikasi relatif lebih mudah dilakukan karena seluruh persyaratan dapat dibuktikan melalui dokumen yang jelas dan terukur.

Ia mencontohkan pada jalur prestasi setiap calon peserta didik wajib melampirkan sertifikat atau dokumen resmi yang menjadi dasar penilaian. Karena itu, potensi sengketa maupun perdebatan dalam proses seleksi relatif kecil.

“Karena prestasi itu dibuktikan dengan sertifikat. Yang krusial biasanya jalur domisili,” tegasnya.

Pernyataan tersebut sejalan dengan perhatian besar yang diberikan Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda terhadap jalur domisili dalam SPMB tahun ini. Jalur tersebut menjadi jalur utama penerimaan dengan porsi 50 persen dari total daya tampung SMP negeri.

Dalam petunjuk teknis SPMB 2026, seleksi domisili dilakukan menggunakan data Kartu Keluarga (KK) yang telah terbit minimal satu tahun dan diverifikasi melalui sistem titik koordinat alamat tempat tinggal calon peserta didik.

Skema ini diterapkan untuk menutup celah manipulasi data kependudukan yang kerap menjadi sorotan setiap musim penerimaan siswa baru.

Meski secara keseluruhan daya tampung SMP di Samarinda dinilai aman, persaingan diperkirakan tetap akan terjadi di sejumlah wilayah tertentu.

Data Disdikbud menunjukkan total daya tampung SMP negeri dan swasta tahun ini mencapai 14.512 kursi. Sementara jumlah lulusan SD tercatat sebanyak 13.079 siswa. Dengan demikian, Kota Samarinda secara agregat masih memiliki surplus sekitar 1.433 kursi.

Namun jika dilihat berdasarkan rayon, kondisinya tidak sepenuhnya merata.

Rayon 1 yang meliputi Kecamatan Samarinda Seberang, Loa Janan Ilir, dan Palaran menjadi wilayah dengan ruang tampung paling ketat. Total kapasitas SMP negeri dan swasta di rayon tersebut mencapai 2.999 kursi, sedangkan jumlah lulusan SD mencapai 2.936 siswa. Artinya, selisih yang tersedia hanya sekitar 63 kursi.

Sebaliknya, Rayon 2 yang mencakup Samarinda Kota, Samarinda Ilir, dan Sambutan masih memiliki surplus sekitar 415 kursi. Rayon 3 yang meliputi Samarinda Utara dan Sungai Pinang surplus sekitar 440 kursi, sedangkan Rayon 4 yang mencakup Samarinda Ulu dan Sungai Kunjang memiliki cadangan kursi terbesar dengan surplus sekitar 449 kursi.

Perbedaan ketersediaan kursi antarwilayah tersebut membuat jalur domisili diperkirakan menjadi fase paling menentukan dalam pelaksanaan SPMB SMP tahun ini, terutama bagi calon peserta didik yang berada di kawasan dengan tingkat persaingan tinggi.

Meski demikian, Disdikbud Samarinda tetap optimistis tahapan berikutnya dapat berlangsung lancar. Optimisme itu berkaca pada pelaksanaan SPMB jenjang SD yang sebelumnya berjalan relatif tanpa gejolak berarti.

“Namun dilihat pelaksanaan di SD lancar saja,” pungkas Wahiduddin.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :