Tuntutan pencopotan Brigadir Asky Rizal Toding akhirnya mendapat respons langsung dari Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud. saat didemo ribuan massa aksi.
EKSPOSKALTIM, Samarinda – Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Rudy Mas’ud berjanji akan memecat Asky Rizal Toding dari posisinya sebagai ajudan dan mengembalikannya ke kesatuan asal.
Keputusan itu disampaikan langsung di hadapan massa aksi mahasiswa di halaman Kantor Gubernur Kaltim, Rabu (21/10).
Lihat postingan ini di Instagram
Pernyataan tersebut merespons tuntutan mahasiswa terkait insiden yang melibatkan Aski dengan mahasiswa pada Senin (19/10) lalu.
Saat menemui demonstran, Rudy meminta massa tetap tenang sebelum menyatakan sikapnya terhadap ajudan yang menjadi sorotan.
“Berkenaan tadi yang pertama, saya pribadi... saya ingin menyampaikan... kita pecat. Setuju kita pecat?” ujar Rudy di hadapan massa.
Mahasiswa menyambut pernyataan itu dengan seruan setuju. Rudy kemudian menegaskan langkah yang akan diambil, yakni menarik Aski dari posisi ajudan dan mengembalikannya ke kesatuan asal.
“Kita tarik beliau, kita kembalikan ke satuannya. Aman itu. Itu beres,” kata Rudy.
Ia kembali menegaskan keputusan tersebut ketika massa terus menyuarakan tuntutan pencopotan ajudan. Rudy juga menyatakan akan menandatangani surat yang disodorkan perwakilan mahasiswa pada hari itu.
“Suratnya bisa ditandatangani, hari ini saya tandatangani di sini,” katanya.
Insiden yang memicu tuntutan tersebut terjadi di halaman Masjid Nurul Mukminin, kompleks Pemprov Kaltim.
Saat itu, mahasiswa GMNI Samarinda baru menyelesaikan aksi terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan bersiap meninggalkan lokasi setelah azan Magrib.
Salah seorang kader GMNI, Rossa Tri Rahmawati, sebelumnya merekam kedatangan Rudy dan menanyakan alasan gubernur tidak menemui mahasiswa ketika aksi berlangsung.
Menurut Rossa, setelah gubernur melewatinya, seorang ajudan menangani atau berupaya menangani telepon genggam miliknya.
Kader GMNI lainnya, Ridwan, juga mengaku mengalami kontak fisik dengan ajudan tersebut hingga situasi memanas.
Setelah insiden itu menjadi sorotan di media sosial, Asky menyampaikan permohonan maaf melalui video klarifikasi yang beredar.
Polisi berpangkat brigadir satu ini mengakui sikapnya arogan, menyebut tindakannya sebagai kesalahan yang tidak dapat dibenarkan, serta mengatakan perbuatannya dilakukan secara spontan tanpa instruksi siapa pun. Ia juga berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.
“Saya menyadari bahwa tindakan saya tersebut adalah sebuah kesalahan dan telah menimbulkan ketidaknyamanan serta tidak ada pembenaran atas perbuatan saya,” ujar Asky dalam video tersebut.



