Samarinda, EKSPOSKALTIM – Sejumlah lembaga pemerintah, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil bersepakat memperkuat kolaborasi untuk meningkatkan keberhasilan program restorasi mangrove di Kalimantan Timur dan Indonesia.
“Menyadari adanya tantangan dan tingkat kegagalan dalam restorasi mangrove, kami mengumpulkan para pihak untuk berbagi pembelajaran secara terbuka, agar upaya ke depan bisa lebih efektif dan berhasil,” kata Direktur Yayasan Planet Urgensi Indonesia (YPUI), Reonaldus, dalam Seminar Nasional Mangrove di Samarinda, Rabu (16/10).
Seminar bertajuk “Mengapa Berhasil, Mengapa Gagal: Pembelajaran Restorasi Mangrove dari Berbagai Tingkatan” ini diinisiasi oleh YPUI dan Mangrove Action Project (MAP). Kegiatan tersebut menjadi wadah refleksi atas praktik masa lalu sekaligus ajang mencari strategi untuk meminimalkan kegagalan restorasi di masa depan.
Reonaldus menilai kolaborasi lintas sektor sangat penting karena Indonesia memiliki sekitar 22 persen dari total luas mangrove dunia, namun telah kehilangan sekitar 800 ribu hektare dalam tiga dekade terakhir. Kondisi ini menuntut peningkatan kapasitas para pelaksana program agar mampu menerapkan metode restorasi yang tepat.
Forum tersebut juga dinilai menjadi ruang berbagi pengalaman, baik dari program yang berhasil maupun yang menemui kendala, untuk dijadikan pembelajaran bersama.
Upaya ini, menurutnya sejalan dengan komitmen pemerintah yang sejak 2020 membentuk Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM). Lembaga ini ditugaskan memfasilitasi rehabilitasi mangrove seluas 600 ribu hektare di sembilan provinsi prioritas di Indonesia.
Meski banyak program restorasi di tingkat global dan nasional belum menunjukkan hasil optimal, seminar ini menekankan pentingnya mencari solusi nyata.
Diskusi mendalam dilakukan untuk mengurai tiga tantangan utama. Dari hambatan sosial-politik, kondisi biofisik di lapangan, dan lemahnya komunikasi antar pemangku kepentingan.
Pembelajaran dipaparkan dari berbagai tingkat. Dari level tapak oleh Pokja Pesisir, tingkat regional oleh M4CR Kaltim, hingga skala nasional oleh Global Mangrove Alliance (GMA) Chapter Indonesia.
“Perspektif global turut dibagikan oleh Mangrove Action Project (MAP) agar kita bisa melihat persoalan ini dalam konteks yang lebih luas,” ujar Reonaldus.

