EKSPOSKALTIM- Pemandangan sedikit berbeda dengan wasit-wasit wanita yang pernah bertugas di sepak bola Indonesia. Kenapa tidak, di Bekasi lapangan hijau memiliki warna tersendiri saat Nur Holisah, wanita kelahiran Bekasi, 20 Juli 19 tahun silam tetap mengenakan hijabnya saat menjalankan tugas sebagai pengadil pemegang keputusan dilapangan hijau.
Saat dilakukan wawancara Ekspos Bontang melakukan Via Telepon, Mahasiswi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini mengatakan bahwa dirinya wasit berhijab pertama yang bergabung di dunia sepak bola Indonesia.
“Iya kak, saya wasit pertama yang memakai jilbab,”terangnya.
Bertugas dibawah terik sinarnya matahari tidak membuat Nur –akrab ia disapa—untuk beranjak meninggalkan tugasnya. Akan tetapi kata dia, hal tersebut dijadikan tantangan tersendiri dalam menggeluti dunianya sebagai hakim dilapangan hijau tersebut.
“Kebetulan saya bukan tipe cewek yang manja kak, terik matahari atau hujan saat memimpin pertandingan menurut saya disitulah salah satu tantangan seorang wasit saat memimpin. Kalau gak mau panas-panasan dan kena hujan ya mending nongkrong dirumah aja gak usah ngapa-ngapain,”celetuk mahasiswi yang masih menyelesaikan program studi murni Matematika S1 itu.
Selain itu, Nur juga mengantongi sejumlah prestasi dibidang olahraga saat ia bergabung di club atletik senayan,Jakarta yang menghantarkan dirinya hingga seperti saat ini. Memiliki club bernama Fajar Mas Murni (FMM) dan mengikuti perlombaan Kejurnas remaja dan junior nomer estafet 8x50M membawa nama sekolahnya SMPN 7 Kota Bekasi dan mendapatkan juara II (Perak), 6 bulan kemudian mengikuti lomba antarclub se-provinsi DKI dalam nomer jalan cepat di stadion valedrom rawamangun,Jaktim dengan juara II (Perak).
Tak hanya sampai disitu, kisah tak terlupakan pun dialami wanita yang kental dengan logat Betawi ini, kata Nur pernah digelar pertandingan kampung tepatnya desa kebalen,kabupaten bekasi, saat itu terdapat 1 pertandingan dan disitu ia di tugaskan sebagai Asisten Wasit (AW).
Pertandingan babak pertama pun dimulai, naasnya ketika pertandingan babak pertama di mulai Nur mendapat musibah yang membuat ia terkenang hingga saat ini dimana saat pertama kali memimpin pertandingan dia dijahili oleh salah satu supporter club yang bertanding dengan membuang kantong plastic yang berisi kotoran manusia tepat disepatu Nur saat memimpin pertandingan disudut lapangan sebagai AW.
“Itu pengalaman saya jadi wasit yang tak pernah saya lupakan. Dan karena itu juga saya akan berusaha menjadi yang terbaik untuk membuktikan kesemua kalau saya pasti bisa menjadi salah satu wasit yang terbaik yang ada di Indonesia,”cetus wasit yang masih mengantongi lisensi C2 (tingkat provinsi).
Harapan sudah tentu pun ada, Nur tetap berniat untuk meningkatkan prestasinya menjadi C1 agar kelak ia bisa memimpin Laga ISL dan berlanjut mengambil lisensi FIFA.
"Saya sih tetap berharap punya lisensi C1 agar bisa memimpin laga ISL. Kalau bisa saya teruskan ambil lisensi FIFA,”tukas Nur. (*)


