Kasus hujan debu yang dikeluhkan warga Balikpapan kini menjadi perhatian di tingkat nasional. Anggota Komisi XII DPR RI Syafruddin mendesak Kementerian Lingkungan Hidup segera turun ke lapangan untuk mengusut sumber debu dan memastikan tidak ada kelalaian dalam operasional kilang Pertamina Balikpapan.
EKSPOSKALTIM, Samarinda – Kasus hujan debu yang meneror warga Balikpapan resmi menggelinding ke ranah nasional. Anggota Komisi XII DPR RI, Syafruddin, mendesak Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) segera turun tangan mengusut tuntas dugaan kelalaian operasional Kilang Pertamina Balikpapan, menegaskan bahwa status proyek strategis nasional tidak boleh menumbalkan kesehatan rakyat.
Menurut Syafruddin, debu yang berterbangan hingga masuk ke kawasan permukiman warga bukan hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan masyarakat.
"Ini juga sangat membahayakan berdampak besar terhadap masyarakat, terutama anak-anak kecil, bayi balita," katanya kepada EksposKaltim, Kamis (25/6/2026).
Ia menegaskan pemerintah pusat melalui KLH tidak boleh hanya menunggu hasil kajian administratif, melainkan harus melakukan pemeriksaan langsung terhadap sumber debu yang saat ini menjadi keluhan warga.
Syafruddin menyebut penelusuran tersebut harus dilakukan secara komprehensif, termasuk memeriksa sumber-sumber debu cokelat yang diduga berkaitan dengan wilayah operasi Pertamina, khususnya kilang Pertamina Balikpapan.
Ia menilai keberadaan industri strategis seperti kilang migas seharusnya memberikan manfaat bagi masyarakat, bukan menimbulkan gangguan terhadap kualitas lingkungan dan aktivitas warga.
"Sebab itu saya meminta kepada KLH untuk turun meninjau dan mengidentifikasi secara menyeluruh dan secara komprensif titik mana sumber dari debu itu," tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama Syafruddin juga menyinggung mengenai posisi Balikpapan sebagai kota penyangga industri migas nasional.
Menurutnya, pemerintah perlu menjawab pertanyaan mendasar mengenai sejauh mana masyarakat harus menanggung risiko lingkungan dari proyek-proyek energi strategis.
Politikus PKB itu menilai perusahaan sebesar Pertamina semestinya memiliki sistem mitigasi yang kuat untuk mengantisipasi dampak sosial dan lingkungan di sekitar wilayah operasinya. Namun ia menegaskan seluruh kemungkinan penyebab harus ditelusuri terlebih dahulu, termasuk potensi kelalaian.
"Tapi inilah yang harus kita cek dan selidiki. Apakah ada kelalaian, ada trouble atau memang terjadi secara alamiah," kata dia.
Syafruddin bahkan menyatakan akan meminta pertanggungjawaban apabila investigasi nantinya menemukan adanya unsur kelalaian dalam pengelolaan operasional kilang.
Lantaran persoalan ini terjadi di daerah pemilihannya dan berkaitan langsung dengan mitra kerja Komisi XII DPR RI, Syafruddin memastikan akan mengawal kasus tersebut secara serius hingga ada evaluasi menyeluruh.
"Pasti saya mengatensikan secara serius agar ini dilakukan evaluasi secara komprensif dan menyeluruh," pungkasnya.
Sementara itu, hasil investigasi awal terhadap sampel debu yang menyebar di sejumlah kawasan Balikpapan menunjukkan material tersebut merupakan zeolit yang kaya aluminium silikat dan dinyatakan oleh pihak Pertamina tidak mengandung unsur berbahaya. Sampel telah dikirim ke Laboratorium Sucofindo Jakarta untuk pengujian lebih lanjut.
PT Kilang Pertamina Balikpapan menjelaskan debu muncul akibat gangguan teknis pada salah satu peralatan saat uji coba operasional kilang baru. Perusahaan mengaku telah menghentikan proses pengujian, melakukan perbaikan peralatan, serta menyiapkan tambahan sistem scrubber untuk mencegah kejadian serupa.
Meski demikian, Dinas Kesehatan Balikpapan tetap melakukan pemantauan kesehatan warga terdampak dan hingga kini belum menemukan lonjakan kasus ISPA maupun gangguan kesehatan terkait paparan debu.



