EKSPOSKALTIM, Bontang – Meninggalnya Ratna, bocah 10 tahun akibat menderita penyakit DBD, menambah panjang deretan korban wabah virus dengue nyamuk aedes aegypti yang berujung pada kematian di tahun 2016 ini.
Ketua RT 22 Kelurahan Gunung Telihan, Robert Kidding, menyayangkan kejadian yang menewaskan warganya itu, serta tak adanya upaya pemerintah atau instansi terkait untuk menanggulangi wabah penyakit DBD ini.
“Sejak tahun 2015, pemerintah atau dinas terkait tidak pernah datang kesini untuk melakukan pencegahan ataupun memberikan solusi kepada kami terkait penyakit ini. Bahkan, setelah ada 3 korban warga kami yang meninggal dunia tahun ini, baru kemarin mereka melakukan foging. Apa memang disengaja tunggu korban dulu baru dilakukan pencegahan,” bebernya, saat ditemui di rumah duka Almarhumah Ratna, Selasa (16/8/16) sore kemarin.
Mirisnya lagi, kata dia, pihak pemkot ataupun dinas terkait tak ada satupun yang berkunjung atau menyambangi rumah duka. Robert menilai, dinas terkait seakan-akan tutup mata dan tak mau tahu persoalan ini.
“Ini saja, adanya warga kami meninggal karena DBD, baik Pemkot, dinas terkait seperti Dinas Kesehatan, Puskesmas atau siapapun yang dipemerintahan tidak ada yang datang menyambangi rumah duka," ujarnya
Paling tidak, kata dia, kedatangan para pihak tersebut menjadi salah satu poin untuk bersama-sama dilakukannya tindakan solusi atau pencegahan, agar tidak ada orang tua yang harus kehilangan anaknya lagi karena penyakit ini.
“Warga butuh kordinator untuk bersama-sama melakukan pencegahan, dan memberikan solusi kepada dinas terkait yang notabene mereka lebih tau dan lebih ahli dibanding warga,” pungkasnya.(*)

