Rahmah juga dikenal sebagai guru dari Rasuna Said, tokoh asal Maninjau yang lebih dulu dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional
EKSPOSKALTIM, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menganugerahi Rahmah El Yunusiyah, tokoh asal Sumatera Barat, dengan gelar Pahlawan Nasional atas jasa besar di bidang pendidikan Islam.
Penghargaan itu disambut dengan rasa syukur oleh keluarga besar Rahmah. Perwakilan keluarga, Fauziah Fauzan El Muhammady, menyampaikan terima kasih kepada pemerintah di Istana Negara, Jakarta, Senin.
"Kita ucapkan terima kasih kepada pemerintah Indonesia, khususnya kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto yang telah memberikan anugerah ini," kata Fauziah, dikutip dari ANTARA.
Ia menilai gelar itu adalah bentuk penghormatan tertinggi negara atas perjuangan luar biasa para tokoh dalam memajukan bangsa.
Rahmah dikenal sebagai pelopor pendidikan perempuan di Indonesia dan pendiri Perguruan Diniyah Puteri Padang Panjang pada 1 November 1923. Lembaga itu menjadi pondok pesantren modern pertama khusus perempuan dan berperan penting dalam pergerakan kemerdekaan di Sumatera Barat.
"Semua santri menyambut dengan rasa syukur. Artinya, ada pengakuan atas perjuangan Bunda Rahmah. Yang tak hanya sebagai tokoh pendidikan, tapi juga tokoh perjuangan kemerdekaan," ujar Fauziah yang kini memimpin Perguruan Diniyah Puteri.
Rahmah juga dikenal sebagai guru dari Rasuna Said, tokoh asal Maninjau yang lebih dulu dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional. “Murid beliau sudah lebih dahulu mendapat pengakuan. Sekarang gurunya diakui sebagai pahlawan nasional. Alhamdulillah,” ucap Fauziah.
Selain mendirikan Diniyah Puteri, Rahmah juga membentuk Perserikatan Guru-Guru Putri Islam di Bukittinggi dan aktif menentang penjajahan Belanda. Ia mendirikan Taman Bacaan Khuttub Khannah untuk meningkatkan literasi perempuan dan bergabung dalam Serikat Kaum Ibu Sumatera (GKIS) Padang Panjang.
Rahmah juga ikut mendirikan Partai Masyumi di Minangkabau. Pada masa revolusi, ia menjadi pelopor pembentukan unit perbekalan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Padang Panjang, menyediakan logistik dan senjata bagi para pejuang.
Dalam Pemilu 1955, Rahmah terpilih sebagai anggota DPR dari Masyumi, namun lebih memilih bergabung dalam perjuangan gerilya mendukung Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).
Lahir di Bukit Surungan, 20 Desember 1900, dan wafat pada 26 Februari 1969, Rahmah El Yunusiyah dikenal luas sebagai reformator pendidikan Islam dan pejuang kemerdekaan.
Pada 1955, Imam Besar Al-Azhar Abdurrahman Taj berkunjung ke Diniyah Puteri. Dua tahun kemudian, Rahmah melakukan kunjungan balasan ke Universitas Al-Azhar dan dianugerahi gelar kehormatan “Syekhah”. Menjadikannya ulama perempuan pertama yang menerima penghargaan itu.


