PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Bekantan, Burung Air, hingga Pesut: Warga Anggana Ungkap Potret Nyata Kerusakan Mangrove

Home Berita Bekantan, Burung Air, Hin ...

Lebih dari 40 spesies flora dan fauna berhasil dipetakan warga Anggana lewat metode PRA yang difasilitasi Program M4CR. Dari bekantan sampai tanda menurunnya populasi pesut, pemetaan ini membuka lagi ingatan ekologis lokal di tengah realitas pahit hilangnya mangrove akibat konversi tambak sejak 1990-an.


Bekantan, Burung Air, hingga Pesut: Warga Anggana Ungkap Potret Nyata Kerusakan Mangrove
Salah satu kegiatan fasilitasi pemetaan biodiversitas mangrove di kawasan Delta Mahakam, Kukar, Kaltim, yang dilakukan M4CR (Antara Kaltim/HO- M4CR)

EKSPOSKALTIM, Samarinda - Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) Kementerian Kehutanan RI memfasilitasi kelompok masyarakat di Desa Sepatin dan Kutai Lama, Kecamatan Anggana, Kutai Kartanegara, memetakan biodiversitas mangrove dengan pendekatan partisipatif untuk mendukung kelestarian ekosistem dan ekonomi berkelanjutan.

"Pemetaan biodiversitas mangrove ini kami lakukan dengan menggunakan metode Participatory Rural Appraisal (PRA)," ujar Staf Safeguard Program M4CR, Alfadhli, Jumat (12/12), dikutip dari ANTARA.

Menggunakan lembar plano, spidol, dan poster jenis satwa, warga mengidentifikasi lebih dari 40 jenis flora dan fauna yang masih menghuni kawasan mangrove di dua desa tersebut. Melalui PRA, warga mendiskusikan waktu kemunculan satwa, tingkat kelimpahan, perilaku, dan dampaknya terhadap pertumbuhan mangrove. Seluruh informasi dituliskan dalam matriks besar untuk diverifikasi bersama.

"Melalui PRA, warga tidak hanya memberikan data, tetapi turut menganalisis kondisi ekosistem secara kolektif. Bahkan, warga menjadi analis utama ekosistemnya sendiri," kata Alfadhli.

Data yang terkumpul mencakup keberadaan bekantan, burung air, reptil mangrove, hingga tanda menurunnya populasi pesut di kawasan sungai. Temuan ini menjadi dasar penyusunan rencana pengelolaan biodiversitas dan mitigasi gangguan satwa terhadap rehabilitasi mangrove yang sedang berlangsung.

Sustainable Mangrove Management Coordinator Program M4CR, Wignya Utama, menjelaskan bahwa kajian ilmiah dan citra satelit Delta Mahakam 1984–2025 menunjukkan konversi besar-besaran mangrove menjadi tambak sejak 1990-an. Perubahan lahan 1999–2022 juga mencatat penurunan tutupan mangrove signifikan, membuat pesisir semakin rentan abrasi dan intrusi air laut.

Mangrove berperan penting menyaring limbah tambak, menyediakan habitat ribuan spesies ikan, dan menyimpan karbon 3–5 kali lebih besar dibanding hutan daratan. “Mangrove memberikan perlindungan pantai yang jauh lebih efisien serta nilai ekonomi melalui jasa ekosistem,” ujarnya.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :