EKSPOSKALTIM, Paser - Sejumlah organisasi masyarakat (ormas) adat di Kalimantan Timur terindikasi terlibat dalam tragedi Muara Kate. Mereka pun menjalani pemeriksaan kepolisian.
"Iya benar. Sejumlah ormas kami curigai," jelas Kasatreskrim Polres Paser, AKP Helmi Saputro, Selasa (7/1).
Ada alasan polisi mencurigai keterlibatan ormas dalam penyerangan ke posko warga penolak hauling di Muara Kate.
Sebelum pembunuhan tetua adat Dayak Deah, Russell (60), sejumlah ormas diketahui menyatakan dukungan ke praktik kotor hauling.
Dukungan, menurut informasi kepolisian, utamanya datang dari ormas-ormas yang menerima CSR (dana sosial) dari PT MCM.
"Iya benar," kata Helmi.
Namun begitu, polisi belum menemukan bukti nyata keterlibatan sejumlah ormas ini.
"Belum ada bukti materiil, tapi kami terus selidiki," kata Helmi.
"Masih banyak yang kami curigai," sambungnya.
Sumber media ini di lapangan, ada enam ormas yang diduga menerima CSR dari PT MCM. Mayoritas bercorak adat. Sebagiannya nasionalis.
Namun Helmi menjelaskan. Bahwa bukan hanya ormas saja yang mereka curigai.
Kecurigaan lain mengarah ke PT MCM. Sebab raksasa pertambangan satu ini-lah pihak yang paling berkepentingan.
Sejak setahun belakang, truk-truk dari PT MCM hilir-mudik melintasi jalan nasional Muara Kate. Itu dilakukan MCM untuk memasok hasil tambang ke Desa Rangan.
Desa di Kabupaten Paser ini dipilih untuk memangkas biaya distribusi ketimbang harus ke Banjarmasin.
Tapi setelah diselidiki, ternyata urusan angkutan batu bara telah MCM vendorkan ke pihak ketiga.
"Jadi kedua-duanya kami curigai, kami periksa semua," sambung Helmi.
Namun Helmi menegaskan ini semua masih sebatas kecurigaan. Sebab, penyidiknya belum menemukan bukti materiil.
"Kami masih selidiki," sambungnya.
Pembunuhan kepada Russel terjadi pada 15 November atau sebulan setelah warga Muara Kate mendirikan posko anti-hauling.
Di posko yang berada di tepi jalan nasional itu warga bergantian berjaga siang-malam demi menghalau truk-truk batu-bara dari Kalimantan Selatan.
Saat pagi buta, Russel dan Anson yang sedang terlelap usai berjaga tiba-tiba diserang oleh orang tak dikenal. Mereka membawa sajam, menggunakan masker, dan menumpangi sebuah mobil. Luka tusuk selebar 15x8 centimeter di leher membuat nyawanya tak tertolong.
Gerakan menolak hauling meluas setelah pendeta Veronika tewas tertindih truk batu bara, akhir Oktober 2024. Sebelum Veronika seorang ustaz bernama Teddy juga tewas. Pemuda satu ini ditabrak lari diduga oleh truk batu bara.
Truk-truk pengangkut emas hitam mayoritas berasal dari PT Mantimin Coal Mining (MCM). Konsesi raksasa tambang satu ini mencapai seluas 5 ribu ha mencakup dua kabupaten di Kalsel. Mereka memilih melintasi Muara Kate demi memasok hasil tambang ke Desa Rangan di Kabupaten Paser, ketimbang harus ke Banjarmasin dan sekitarnya.
Sampai saat ini belum ada konfirmasi dari PT MCM. Media ini terus menghubungi orang-orang yang terhubung dengan perusahaan asal India itu.

